METROPOLITAN –  Angka kelompok gay atau penyuka sesama jenis atau disebut Lelaki Seks Lelaki (LSL) di Sukabumi diperkirakan cukup tinggi. Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di Kota Sukabumi mencatat ada 1.018 orang, sedangkan di Kabupaten Sukabumi ada 998 orang.

Ketua KPA Kota Sukabumi Achmad Fahmi mengatakan, jumlah ini sebe­narnya menurun bila dibandingkan dengan hasil pemetaan pada 2015 yang mencapai 1.320 orang. Seribuan kalangan LSL, jelas Fahmi, be­rasal dari 48 titik yang berada di Kota Sukabumi. Sementara untuk 2018, pi­haknya masih melakukan pe­metaan oleh petugas di lapangan dan hingga kini masih terus berlangsung. Hal ini untuk me­mastikan data terakhir.

Fahmi menerangkan, KPA melalui kelompok kerja (pokja) pencegahan penularan HIV/AIDS melalui transmisi seksual (PMTS) terus melakukan peman­tauan, terutama penguatan layanan kesehatannya. Hal ini guna mendorong komunitas memeriksakan diri secara rutin.

Selain itu, tutur Fahmi, KPA juga melakukan pengawasan ke hotspot bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Penelitian Sosial dan Agama (Lensa) Sukabumi. Di sana petugas melakukan pen­jangkauan dan pendampingan serta pencegahan dari penye­baran HIV/AIDS.

Fahmi mengungkapkan, KPA memberi perhatian khusus terhadap LSL karena banyak yang terkena HIV/AIDS. Pasal­nya, dari temuan kasus baru HIV sebanyak 92 kasus di 2018 ini, sebanyak 22 orang di an­taranya berasal dari LSL. Bah­kan dalam sebulan, rata-rata ada tiga hingga enam kasus baru dari kalangan LSL. Selain itu, kasus HIV yang paling banyak berasal dari pasangan risiko tinggi (risti) yang tidak setia dengan pasangannya.

Sementara itu, jumlah ka­langan gay yang terdata di Ka­bupaten Sukabumi mencapai 998 orang. ”Berdasarkan hasil pemetaan populasi kunci LSL akhir 2017, mencapai 998 orang,” ujar Pengelola Program KPA Kabupaten Sukabumi Dian Hendayana Saputra. Pemetaan ini dilakukan tim gabungan dari KPA Kabupaten Sukabumi, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi dan LSM Lensa. Ia menerangkan data jumlah LSL sebanyak 998 ini berasal dari 25 hotspot di wi­layah Kabupaten Sukabumi.

Dian menerangkan, dari satu hotspot bisa terdapat seba­nyak 40 orang kalangan LSL. Pemetaan yang dilakukan pe­tugas, salah satunya tehadap LSL sebagai upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS. Sebab, kasus HIV-AIDS di Ka­bupaten Sukabumi tertinggi dari LSL atau gay. Hal ini dida­sarkan pada data kelompok ri­siko Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) kumulatif pada 2013-2017 yang berdomisili di Kabu­paten Sukabumi.

Pada data itu, ungkap Dian, kalangan LSL atau gay menempati peringkat per­tama dalam kasus HIV yakni sebanyak 213 penderita. Berikut­nya dari kalangan ibu rumah tangga sebanyak 144 orang. Pe­ringkat ketiga, ditempati kelom­pok Wanita Pekerja Seks (WPS) sebanyak seratus kasus. Sela­njutnya anak sebanyak 38 orang, pengguna napza suntik seba­nyak 37 orang dan waria 16 orang. (rol/els/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here