Caleg dari Partai Ini Diramal Gagal ke Senayan

by -17 views

METROPOLITAN – Sudah sebulan, calon anggota legislatif (caleg) bergerilya di masa kampanye yang telah ditetapkan sejak 23 September. Berbagai cara pun dilakukan untuk ‘PDKT‘ alias pendekatan dengan warga di daerah pemilihan (dapil)-nya. Lantas, sanggupkah mereka mengerek suara partai politik (parpol) hingga tembus ambang batas parlemen empat persen? Berikut ramalan lembaga survei.

Pemilu  2019 tentu berbeda dengan pemilu 2014. Caleg yang mendapatkan suara banyak tak jadi jaminan bisa berkantor di gedung Senayan. Ini menyusul ditetapkannya ambang batas parlemen (parliamentary thres­hold, red) empat persen.

Survei Populi Center merilis hasil surveinya terkait elektabili­tas parpol. Hasilnya, hanya ada lima parpol yang calegnya bisa lolos ke gedung DPR RI. Yakni PDIP (25,1%), Gerindra (11,8%), PKB (10,3%), Partai Golkar (10,2%) dan Nasdem (4,2%).

Yang terakhir merilis survei soal elektabilitas parpol adalah Populi Center. Berdasarkan sur­vei Populi Center yang dipubli­kasikan pada Rabu (24/10/2018), hanya lima parpol yang elekta­bilitasnya melewati parliamentary threshold sebesar empat persen, yaitu:

Berdasarkan survei yang dila­kukan pada periode 23 Septem­ber-1 Oktober 2018, dengan 1.470 responden, kelima parpol terse­but yang berhasil melewati ambang batas empat persen.

Sementara partai yang sudah lama eksis juga tak sampai empat persen. Seperti Partai Demokrat (3%), PKS (3%), PPP (2,7%), PAN (1,6%) dan Hanura (1%). Bahkan ada parpol yang elektabilitasnya tak sampai satu persen. Atau ha­nya nol koma.

Di antaranya Perindo (0,8%), Garuda (0,5%), PSI (0,3%), PBB (0,2%), Berkarya (0,1%) dan PKPI (0,0%). “Dengan margin of error 2,53 persen, PKS, PPP dan PAN masih mungkin menembus em­pat persen,” demikian keterang­an dalam rilis.

Hasil survei Litbang Kompas pun menunjukkan hasil tak jauh beda. Sebanyak sebelas parpol terancam tidak lolos parliamen­tary threshold sebesar empat persen di pemilu 2019.

Dari belasan partai tersebut, enam parpol terancam dan cukup sulit bisa lolos ambang batas. Sementara lima parpol lain po­sisinya belum aman untuk lolos ke DPR periode 2019-2024. Ini berdasarkan hasil survei Litbang Kompas pada 24 September-5 Oktober 2018.

Dari hasil survei, elektabilitas enam parpol hanya berada an­tara 0,1 persen hingga satu persen.

Yakni Hanura (1%), PBB (0,4%), PSI (0,4%), Partai Berkarya (0,4%), Partai Garuda (0,3%) dan PKPI (0,1%). Sementara lima parpol lain posisinya belum aman, te­tapi berpotensi menembus ambang batas jika memper­timbangkan angka simpangan survei (± 2,8%). Di antaranya Nasdem (3,6%), PKS (3,3%), PPP (3,2%), PAN (2,3%) dan Perindo (1,5%).

Dari berbagai pengalaman, ambang batas parlemen telah beberapa kali menggagalkan parpol melenggang ke Senayan. Seperti PBB dan PKPI yang gagal ke Senayan setelah suara nasional yang mereka dapatkan tak men­capai 3,5 persen, syarat parlia­mentary threshold di pemilu 2014.

Mau tak mau, caleg DPR partai yang gagal menembus ambang batas terpaksa kena apes. Sebab walaupun caleg mereka juara di suatu dapil, namun karena aturan ambang batas parlemen tadi, membuat partainya tadi tidak boleh masuk ke DPR.

Ini pun sesuai pernyataan Ke­pala Pusat Perancangan Undang-Undang Badan Keahlian DPR RI Inosentius Samsul seperti yang dikutip dari website resmi DPR RI, www.dpr.go.id. “Bagi partai politik yang tidak memenuhi empat persen tidak diikutkan dalam perhitungan kursi DPR bukan perhitungan kursi di DPRD kabupaten/kota,” ungkapnya.

Inosentius mengilustrasikan, apabila di suatu dapil jumlah suaranya cukup untuk menda­patkan kursi di DPR, namun saat perhitungan suara nasional tidak mencapai empat persen, maka partai tersebut dapat dikatakan gugur.

“Jadi percuma kalau dia menang. Misalnya memperoleh perhitung­an suara 100 persen di provinsi tertentu, sementara kumpulan suara secara nasional tidak sam­pai empat persen, maka partai tersebut dianggap gugur untuk kursi di DPR,” imbuhnya.

Lalu bagaimana para caleg dari partai yang telah diramalkan gagal ke Senayan menyikapinya?

Caleg DPR RI dari Partai Ber­karya Gunawan Hasan mengakui bahwa sebelumnya elektabilitas partainya memang masih rendah. Namun hal itu dikarenakan lan­taran Partai Berkarya kala itu belum mulai bergerak meraup suara. “Memang begitu. Karena waktu itu belum bergerak. Seka­rang sudah bergerak,” kata Gu­nawan kepada Metropolitan.

Untuk itu, dirinya tak khawatir atas survei yang mengatakan bahwa partai besutan Tommy Soeharto ini diprediksi tidak lolos parliamentary threshold atau ambang batas parlemen.

“Kan nggak mungkin juga par­tai kami nggak punya jaringan se-Indonesia. Lagipula banyak orang-orang dari partai lain se­perti Golkar yang saat ini berga­bung dengan Partai Berkarya. Kami si optimis Partai Berkarya bisa lolos ambang batas parlemen empat persen itu,” yakin lelaki yang maju dari Dapil Kabupaten Bogor ini.

Hasil survei itu pun ditanggapi santai caleg DPR RI dari PPP Andi Surya Wijaya. Lelaki yang maju dari Dapil Kota Bogor dan Cianjur ini mengaku hasil survei PPP selalu lebih rendah dari ca­paian sesungguhnya.

“Raihan 2,7 persen kami tang­gapi dengan positif dan tetap optimis disertai semangat dan kerja keras lagi. Selama ini hasil survei PPP selalu lebih rendah dari pencapaian yang sesung­guhnya. Bisa nambah kisaran 3-4 persen,” kata Andi.

Menurutnya, masih ada waktu beberapa bulan ke depan untuk memaksimalkan raihan suara. Yang jelas, hasil survei yang ada menjadi cambuk agar partai dan caleg bekerja lebih keras lagi. “Masih ada beberapa bulan un­tuk caleg dan mesin partai be­kerja lebih giat dan keras lagi. Kami optimis PPP bisa lolos,” ucap Andi. Hal senada juga diutarakan Najamudin, caleg DPR RI Dapil Jabar III. Ia mengaku setiap caleg ditarget menaikkan suara hingga 20 persen. “Setiap dapil, kita di­target agar memperoleh suara 20 persen untuk mencapai angka suara nasional 12 persen. Untuk target saya, PKS itu dengan satu kursi penuh membutuhkan su­ara 230 ribu, sebelumnya 150 ribu,“ bebernya. Sementara itu, Ade Wardhana yang berangkat dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tetap optimis dapat menge­ruk suara hingga lolos ke par­lemen. “Karena PKB kan iden­tik dengan PPP yang sama-sama NU dan mudah-mudahan kelu­arga nahdliyin menentukan pi­lihannya ke PKB,” ungkapnya.(mgh/fin/mul/d/feb/run)