Ini Kata HG soal Sontoloyo

by -13 views

METROPOLITAN – Ketua DPP Partai Gerindra Heri Gunawan (HG) menyoroti kata ‘sontoloyo’ yang pernah diungkapan Presi­den Joko Widodo saat pemba­gian 5.000 sertifikat tanah di Lapangan Bola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Anggota komisi XI DPR ini mem­punyai versi sendiri dengan kata ‘sontoloyo’ tersebut. Versi­nya, sontoloyo itu tidak mampu membereskan defisit ke­seimbangan primer APBN, de­fisit neraca pembayaran dan defisit neraca perdagangan.

“Sontoloyo itu cuma bisanya utang, cabut subsidi, liberali­sasi dan privatisasi. Akumula­sinya balik lagi, memperburuk defisit pada neraca pembayaran dan neraca perdagangan. Lalu ikut membuat nilai tukar rupiah makin anjlok,” cetus legislator asal Sukabumi ini.

Sontoloyo itu, sambung HG, tak bisa mengelola kebijakan negara sebagaimana amanat konstitusi; melindungi segenap bangsa dan tumpah darah In­donesia, mencerdaskan kehidu­pan bangsa, memajukan kese­jahteraan umum dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia. “Sontoloyo itu kemudian diikuti dengan beban rakyat yang makin berat,” tegasnya.

Menurut HG, politikus son­toloyo yang dilontarkan Presi­den Jokowi menyiratkan dua hal. Pertama, pernyataan ter­sebut sebenarnya mengeks­presikan sikap Presiden yang antikritik. “Jika dilihat dari konteksnya, pernyataan terse­but jelas diarahkan Presiden terhadap para pengkritik kebi­jakan dana kelurahan yang baru saja diputuskannya,” imbuhnya.

Seharusnya, presiden mene­rima kritik tersebut secara kon­struktif. Jangan baper karena setiap dana yang keluar dari APBN harus ada dasar hukum­nya. Jadi seharusnya, presiden berterima kasih karena telah diingatkan agar tidak ada atu­ran yang dilanggar,” ungkapnya.

Kedua, dijelaskan HG jika menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘sonto­loyo’ adalah ungkapan makian. Bahkan mungkin bagi seba­gian besar masyarakat, kata Sontoloyo itu jauh dari adab dan adat ketimuran. “Di tengah semangat demokrasi damai yang telah disepakati bersama, semestinya Presiden yang juga sedang menjadi Capres dapat berhati-hati dalam memilih diksi. Hindari diksi yang me­nuduh bahkan provokatif. Ini kontradiktif dengan ajakan adu gagasan, adu konsep, dan adu program yang selalu digaung­kannya,” tandasnya. (hep/els)

Loading...