METROPOLITAN – Lagi-lagi PT Pertamina me­naikkan harga Pertamax Series dalam kurun wak­tu sepuluh bulan. Kenaikan ini telah berlangsung empat kali, yakni pada 13 Januari, 24 Februari, 1 Juli dan 10 Oktober 2018.

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per­tama kali diumumkan pada 13 Januari 2018, untuk BBM nonsubsidi. Saat itu, BBM jenis Pertamax naik Rp200 dari harga Rp8.400 menjadi Rp8.600. Pertamax Turbo naik Rp250 dari Rp9.350 menjadi Rp9.600.

Kemudian di bulan berikutnya atau pada 24 Februari, Perta­mina kembali menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Turbo. Saat itu harga Pertamax naik Rp300 per liter, dari Rp8.600 menjadi Rp8.900. Sementara Pertamax Turbo naik Rp500 per liter.

Selanjutnya pada 1 Juli, harga Pertamax naik Rp600 menjadi Rp9.500. Hari ini harga Pertamax naik Rp900 per liter menjadi Rp10.400. Harga baru ini ber­laku di seluruh Indonesia mulai pukul 11:00 WIB.Sopir angkot 02 Jurusan Bubulak-Sukasari, Endang, mengaku naiknya har­ga Pertamax tak terlalu berpeng­aruh pada penghasilannya. Sebab, sehari-hari ia mengaku masih menggunakan Pertalite dan Premium. “Ya nggak apa-apa lah kalau Pertamax yang naik. Kecuali kalau Pertalite, itu kami yang pusing,” ungkapnya.

Sementara itu, Pengawas SPBU di Jalan Raya Pajajaran, Bogor Utara, Kota Bogor, Irawan (46), mengaku mendapatkan info dari Grup SPBU sekitar pukul 09:45 WIB, bahwa PT Pertamina Persero kembali melakukan penyesuaian harga BBM pada Rabu (10/10) pukul 11:00 WIB secara serentak di Indonesia, termasuk Kota Bogor.

Saat ini kenaikan harga BBM paling besar terjadi pada Pertamax Turbo sebesar Rp1.550. Sedang­kan kenaikan paling kecil ter­jadi pada Pertamax yang men­galami kenaikan Rp900. “Biasanya kenaikan BBM jarang di siang hari, tetapi selalu malam. Setelah pukul 11:00 WIB, kita langsung ganti tottem (papan harga ben­sin, red). Kemungkinan BBM naik karena dolar naik,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional (Hiswana) Minyak dan Gas (Migas) Bogor Asep Erry Junaedi mengatakan, kebijakan ini serentak dari pusat. Kenaikan BBM jenis Pertamax Series dan Dex Series serta Bio­solar Non PSO mulai pukul 11:00 WIB dan berlaku di seluruh In­donesia, Rabu (10/10), dan sudah disosialisasikan ke seluruh SPBU di Kota Bogor. ”Kalau Pertamax naik biasanya ada mengalami punurunan konsumen. Belum kelihatan dampaknya, kita lihat dua hari ke depan,” katanya.

Untuk daerah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur dan Go­rontalo, harga Pertamax ditu­runkan. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong penggunaan BBM berkualitas dan disesuaikan dengan daya beli masyarakat. Sebagai contoh di Maluku dan Papua, harga Pertamax diturun­kan menjadi Rp9.700 per liter.

Vice President Corporate Com­munication Pertamina Adiatma Sardjito mengatakan, penyesu­aian harga BBM jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex, merupakan dampak dari harga minyak men­tah dunia yang terus merangkak naik, di mana saat ini harga mi­nyak dunia rata-rata mencapai 75 dolar per barel. “Bahan baku BBM adalah minyak mentah, tentunya ketika harga minyak dunia naik akan diikuti dengan kenakan harga BBM,” ungkap Adiatma.

Adiatma menambahkan, penye­suaian harga BBM jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex tersebut, dilaku­kan Pertamina sebagai badan usaha, dengan mengacu pada Permen ESDM No 34 Tahun 2018 Perubahan Kelima Atas Peratu­ran Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perhitungan Harga Jual Eceran BBM.

Atas ketentuan tersebut, Per­tamina menetapkan harga Per­tamax untuk wilayah DKI Ja­karta Rp9.500 per liter, semen­tara Pertamax Turbo Rp10.700 per liter. Sedangkan untuk Dex Series, ditetapkan harga Perta­mina Dex Rp10.500 per liter dan Dexlite Rp9.000 per liter.

“Penyesuaian harga ini juga dalam rangka Pertamina tetap bisa bertahan untuk menyediakan BBM dengan pasokan yang cukup sesuai kebutuhan secara terus-menerus, sehingga tidak meng­ganggu konsumen dalam berak­tivitas sehari-hari di mana pun,” tambahnya. Sementara itu, tak cuma Pertamax saja yang naik. Sebab, pemerintah sudah beren­cana menaikkan harga Premium sebelum akhirnya ditunda.

Menurut Adiatma, pihaknya akan membahas kenaikan bahan bakar subsidi tersebut dengan pemegang saham. ”Kenaikan Premium ini Pertamina sedang bahas dengan pemegang saham. Pertamina butuh waktu untuk persiapan. Ini kajian komprehensif dari mulai harga sampai kesiapan di lapangan seluruh Indonesia,” ujar Adiatma. (ads/c/feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here