Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah Kabupaten Bogor Tahun 2018

Nilai Perolehan Air (MPA) dinyatakan dalam satuan rupiah dihitung berdasarkan faktor Sumber Daya Alam (SDA) dan komponen kompensasi pemulihannya dari kontribusi penggunaan air tergantung pada volume air dan jenis pemanfaatanya, perhitungan dilakukan secara progresif berdasarkan kelompok volume pengambilan air berikut penggunaan air sumur yang bervariasi mulai dari 1-500 (m3), 501-1500 (m3),  1501-3000 (m3), 3001-5000 (m3) dan > 5000 (m3). Komponen kompensasi pemulihan terbagi menjadi beberapa indicator diantaranya kawasan pemukiman, perdagangan dan jasa, bahkan penunjang produksi dan bahan produksi. Dengan indeks komponen Pemulihan terbagi menjadi Aman (40%), Rawan (45%), Kritis (60%) dan Mata Air (70%).

Berikut Beberapa Faktor Nilai Perolehan Air yaitu jenis sumber air,lokasi/zona sumber air, dan kualitas air, merupakan factor SDA, sedangkan tujuan pengambilan/pemanfaatan air, volume air yang di ambil dan tingkat kerusakan lingkungan akibat pengambilan air merupakan faktor komponen kompensasi pemulihan sumber daya air dengan tariff pajak sebesar 20%. Harga air Baku (HAB) merupakan nilai permeter kubik (m3) air dihitung berdasarkan investasi yang dikeluarkan untuk melakukan pemboran/ penurapan dan biaya perawatanya. Harga Air Baku (HAB) air tanah dalam dan mata air Rp. 1.500,- sedangkan untuk HAB air tanah dangkal Rp. 1.000,-

Keterangan :

∑ KSDA = jumlah komponen Sumber Daya Alam

KP = Komponen Kompensasi Pemulihan

F1 = Faktor (indeks) / Bobot Nilai KSDA

F2 = Faktor (indeks) / Bobot Nilai KP;

HAB = Harga Air Baku (Rp/m3);

V = Volume Air diambil (m3)

Koordinat ditentukan dengan menggunakan GPS, Zona ditentukan berdasarkan posisi koordinat titik yang diplotkan ke peta Zonasi Air Bawah Tanah, Kualitas ditentukan berdasarkan hasil uji laboratorium yang pengambilan sampelnya dilaksanakan oleh aparat dinas dengan standar tertentu, keberadaan sumber alternatife ditentukan berdasarkan pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan. Kedalaman sumur dan akuifer yang di ambil diketahui berdasarkan data syarat teknis dan data hasil pemboran. Dan kapasitas pompa serta alat ukur diketahui berdasarkan pengamatan titik dan pengujian kemampuan pompa dan alat ukur (meter air).

Pengelolaan NPA air tanah ditetapkan berdasarkan faktor SDA dan pemanfaatannya yang lebih menekankan aspek konservasi air tanah sebagai SDA, diperlukan koordinasi dan sinergitas antara instansi yang memberikan izin, penetapan NPA dan pemungutan pajak agar pengelolaan NPA air tanah dapat optimal, potensi dan peluang mengembangkan NPA air tanah bagi daerah masih besar sejalan dengan semangat otonomi daerah, serta pajak air tanah bukan merupakan tujuan tetapi merupakan dampak dari suatu kegiatan pengambilan / pemanfaatan air tanah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here