METROPOLITAN – Fenomena tanah terbelah tak cuma terjadi di Tangerang dan Depok, tetapi juga di Bogor. Warga di Kampung Cimangurang, Desa Cijayanti, Babakanmadang, Kabupaten Bogor, dikagetkan dengan munculnya keretakan tanah sedalam tiga meter, lebar satu meter dan panjang hingga 500 meter. Bahkan, tanah ini terus mengalami pergeseran tiap jamnya hingga membuat tim dari Tagana terus siaga.

Hujan yang mengguyur wi­layah Bogor dan sekitarnya mem­buat kondisi tanah di Kampung Cimangurang makin labil. Tak ayal, tanahnya pun makin rentan mengalami pergeseran hingga mengancam warga yang bermu­kim di sana. Puncaknya, pada Senin (22/10) ada 25 Kepala Keluarga (KK) yang rumahnya mengalami keretakan dinding secara massal. Di antaranya tiga rumah di RT 03, lima rumah di RT 04 dan 17 rumah di RT 07.

Sedangkan tak jauh dari per­mukiman warga, area tanah yang biasa diakses warga juga terbelah hingga setengah kilometer. Lo­kasinya persis berada di dekat proyek Perumahan Sentul Alaya.

Menurut anggota Tim TRC Tagana pada Dinsos Kabupaten Bogor, Sukmajaya, belahan tanah itu diprediksi akan terus bertam­bah. Mengingat setiap jamnya tanah bergeser sepanjang 5 cm.

“Di sana memang tanahnya geser tiap jam. Panjangnya ada 500 meteran. Itu bisa nambah. Makanya terus kita pantau. Se­mentara ini, ada enam KK yang diungsingkan,” tutur Sukmajaya.

Awalnya, retakan itu terjadi di bagian tanah yang mengarah ke Bukit Pelangi saja. Namun, ber­tambah dan menjalar ke rumah-rumah warga hingga membuat dinding rumah mengalami ke­retakan. Diameter keretakan tanah itu variatif antara 30-50 cm. Se­dangkan salah satu lokasi yang paling dalam sekitar 50 cm.

Humas Kemensos Rajab Fatah menjelaskan, retakan tersebut hampir mengelilingi perkam­pungan. Karena itu, ia bersama rekan relawan dari Tagana me­mantau setiap jam.

”Lebar retakan tanah mulai dari setengah meter hingga satu meter. Namun untuk panjang retakan tersebut diperkirakan 500 meter,” kata Rajab di lokasi posko pengungsian.

Ketua RT 04, Kampung Ci­mangurang, Desa Cijayanti, Ka­bupaten Bogor, Daman, men­duga pergeseran tanah yang terjadi di RT 03, 04 dan 07/02 itu disebabkan pemasangan paku bumi untuk pondasi bangunan proyek Perumahan Sentul Alaya.

”Penggaliannya terlalu dalam, akibatnya tanah di kebun retak-retak yang dikhawatirkan jarak rumah dengan kebun sangat de­kat. Bisa-bisa ambles,” terangnya.

Ketua Tagana Kabupaten Bogor Taufik juga mengatakan hal serupa. Ia menillai pergeseran tanah itu disebabkan pengebo­ran yang begitu dalam.

”Dampak dari pembangunan perumahan mengakibatkan per­geseran tanah sehingga rumah serta masjid terancam. Lebih-lebih ketika hujan deras akan membuat pergeseran tanah makin lebar,” ungkapnya.

Dugaan itu pun diperkuat dengan adanya analisi dari ahli geologi muda, Mohammad Sy­ahrul Romadhon Kamil. Melihat kondisi tanah dan keretakan yang muncul, ia memperkirakan ada­nya pengupasan lereng yang tidak sempurna akibat proyek perumahan. Ditambah dengan intensitas hujan yang sering.

”Jadi perkiraan material di sana kurang kompak karena la­pisan tanahnya (soil, red) tebal banget. Karena ada proyek pe­rumahan, kemungkinan proyek tersebut ngupas lereng tanpa metode terasering dengan sud­ut lereng yang curam. Akibatnya kestabilan lerengnya terganggu dan menjadi labil. Ini yang akhir­nya terjadi gerakan tanah (mass wasting, red). Ditambah ada hujan, jadi mempercepat proses gerakan tanah,” bebernya.

Camat Babakanmadang Yudi Santosa mengatakan, untuk se­mentara warga dibantu anggota Linmas, Tagana dan Pol PP siaga satu di lokasi untuk me­gantisipasi segala kemungkinan.

Soal adanya dugaan kelalaian dari pihak pengembang peru­mahan, ia pun akan membahas­nya lebih lanjut. “Saya harap segera dilakukan kajian teknis, baik dari perumahan maupun dari pemerintah bisa segera mengambil langkah-langkah solusi mencegah terjadinya long­sor,” kata Yudi.

Sekretaris Badan Penanggu­langan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Budi Pranowo mengatakan, Babakanmadang memang masuk wilayah rawan. “Daerah sana memang tanahnya bergeser terus,” ucapnya.

Meski tidak merinci seperti apa kondisi pergeseran tanah terse­but, tutur Budi, dampaknya da­pat mengakibatkan kerusakan fisik rumah. “Tapi kami perlu hasil kajian bersama tim geo­logi. Saat ini belum ada,” tuturnya.

Budi mengaku BPBD belum mengeluarkan status tertentu un­tuk wilayah itu. Namun ia me­minta warga Babakanmadang mencari tempat lebih aman.

Berdasarkan data BPBD Kabu­paten Bogor, ada sejumlah keca­matan yang memiliki tingkat ke­rawanan tinggi terkait pergeseran tanah. Di antaranya Kecamatan Sukaraja, Tamansari, Megamen­dung, Cisarua, Sukamakmur, Cariu, Cigudeg, Leuwiliang, Ba­bakanmadang dan Tamansari. “Tapi tanah bergerak baru ini,” ujar Yudi.

Kapolsek Babakanmadang Kom­pol Wawan Wahyudin mengaku sudah menerima laporan terkait hal tersebut. Polisi pun sudah memberi garis polisi atau di lo­kasi untuk penyelidikan lebih lanjut.

”Kami akan melakukan penyeli­dikan penyebab terjadinya perge­seran tanah tersebut agar warga tidak menjadi korban. Kami pun memberi police line (garis polisi, red) agar warga menjauhi lokasi tersebut,” jelas Wawan.

Ia bersama Pemkab Bogor ber­janji akan berkomunikasi dengan pengembang perumahan agar segera membangun turap di lereng bukit tersebut.

”Izin perumahan ini kan dari Pemkab Bogor atau dinas teknis terkait, jadi kami secara bersama-sama berkomunikasi secepatnya membangun turap agar Kampung Cimangurang tidak menjadi korban longsor,” tandasnya. (mul/d/feb/run)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here