METROPOLITAN –  Sekitar 350 siswa Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (MDTA) dan Raudhatul Athfal (RA) Yayasan AL Muhlisin Kampung Lebaksinyar, RT 03/06, Kelurahan Cicurug, terpaksa harus belajar di masjid. Sebab, bangunan sekolah mereka terhalangi tumpukan tanah dari proyek trek ganda PT Kereta Api Indonesia (KAI).

KETUA Yayasan Al Muhlisin Endang Sukarman mengaku sudah menerima uang kero­himan dari PT KAI sebanyak Rp66 juta karena lokasi seko­lahnya terkena dampak pembangunan trek ganda kereta api jurusan Bogor-Sukabumi. Namun ia meminta toleransi waktu satu bulan untuk tidak dibongkar. “Karena sudah ke­lewat sebulan lebih, mungkin itu yang membuat pekerja

menguruk tanah di depan se­kolah,” katanya kepada Metro­politan.

Endang mengaku bukan tidak mau pindah. Namun karena memindahkan anak didik se­banyak 350 siswa yang terdiri dari RA 40 siswa, MDTA 310 Siswa itu butuh sekolah yang presentetatif. Sebab, uang kero­himan tidak mencukupi untuk membangun sekolah karena harga tanah per meternya Rp700 ribu. “Kami butuh satu miliar lebih, dari mana duitnya?” ujarnya.

Saat ini proses pembangunan sedang dilaksanakan dengan cara utang material ke toko bangunan. Hasilnya baru tem­bok saja yang berdiri. Kondisi tersebut tentunya tidak bisa dijadikan tempat belajar menga­jar sehingga siswanya terpaksa direlokasi ke Masjid Al Ikhlas. “Kami tidak menghalangi pro­gram pemerintah karena proy­ek ini adalah PSN (Proyek Stra­tegis Nasional, red). Sebab itu kami dari yayasan sudah mengajukan permohonan proposal bantuan ke balai perkeretaapian, namun sampai saat ini belum ada realisasi,” bebernya.

Akibat dari sekolah sudah hampir tertimbun material tanah, aktivitas belajar ter­paksa dialihkan ke masjid. Dampaknya banyak silabus yang tidak dijalani dengan maksimal karena waktunya sangat sempit. Apalagi pada Desember akan dilaksanakan ujian semester. “Mencerdaskan anak bangsa adalah kewajiban pemerintah. Kalau siswa kami sebanyak 350 belajar di masjid, bagaimana bisa mendapatkan pendidikan yang optimal?” tuturnya.

Pihak sekolah pun berharap pemerintah daerah dan DPRD dapat memperhatikan persoa­lan pendidikan yang dialami­nya. (kng/els/run

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here