Jalan Dilebarkan, PKL Surken Diusir

by -

METROPOLITAN – Penataan kawasan Jalan Suryakencana terus dikebut Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Proyek peleba­ran pedestrian di sepanjang Jalan Pecinan-nya Kota Bogor itu ber­dampak pada ‘terusir’-nya Pe­dagang Kaki Lima (PKL). Pemkot pun memindahkan PKL siang ke Plaza Bogor dan PKL malam ke Pasar Sukasari, Senin (19/11).

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Ade Sarip Hidayat mengatakan, pemindahan jangan hanya sebatas seremonial. Arti­nya perlu pengawasan dan ke­tegasan untuk mengantisipasi para pedagang balik lagi ke tem­pat semula. Ia pun meminta Satpol PP sebagai korps penegak perda mengawasi pasca-pemin­dahan PKL.

“Terlebih yang PKL malam, yang basah, yang pindah ke Pasar Sukasari. Mereka berda­gang sudah bertahun-tahun, dari malam ke malam. Jam enam disuruh bubar, kadang lewat. Nah, sekarang dibuat aturan dan diatur di sana (Pa­sar Sukasari, red). Maka kami minta dijaga dari malam sam­pai jam delapan pagi supaya tidak balik lagi,” kata Ade ke­pada awak media, Senin malam.

Ade meminta penjagaan dan pengawasan itu tidak hanya ber­langsung satu hari, tetapi ber­laku hingga beberapa minggu ke depan. Sampai benar-benar kondusif dan tidak ada potensi balik kembali, sembari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait melakukan tugasnya da­lam penataan PKL dan kawasan Suryakencana ini. “Juga ada evaluasi terkait bagaimana di Pasar Sukasari nanti. Setelah dipindah. Semua SKPD juga harus komitmen terhadap tu­gasnya,” terangnya.

Misalnya, sambung Ade, Dinas Koperasi dan UMKM soal pem­binaan dan sosialisasi pedagang, PD Pasar soal aturan operasional, juga Satpol PP ambil sikap untuk tegakkan aturan. Ketika ada pe­dagang balik lagi, korps penegak perda sudah tahu langkah apa yang harus dilakukan. “Ini harus ditekankan,” lanjutnya.

Sementara seorang pedagang cabai, Indra (29), berharap pe­mindahan lapak pedagang ke lahan eks Pasar Gembrong itu tidak seperti pengalaman saat berjualan di badan Jalan Surya­kencana, yang banyak terdapat pungutan liar. Ia mengaku dalam sehari bisa dipungut biaya sam­pai puluhan ribu rupiah. “Seka­rang supaya tidak ada pungutan liar, di luar PD Pasar seperti yang sudah-sudah di Surken. Padahal pemasukan belum tentu sampai segitu. Jangan sampai seperti itu lagi lah di sini (Pasar Sukasari, red),” ucapnya. (ryn/c/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *