METROPOLITAN – Jalan Raya Leuwiliang mendadak dikerumuni warga yang penasaran dengan adanya aksi bunuh diri mamah muda (mahmud, red). Rabu (7/10) siang, wanita cantik berambut panjang pirang yang mengenakan daster seketika loncat dari Jembatan Cianten setinggi 9 meter.

JEMBATAN penghubung Kecamatan Cibungbulang dengan Leuwiliang itu seketika disesaki warga dan pengendara. Mereka sengaja memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan untuk melihat evakuasi korban bunuh diri. “Eta bunuh diri lain (itu bunuh diri bukan, red),” celetuk warga yang menyaksikan evakuasi tersebut.

Seorang saksi, Nurdin, mengaku melihat seorang wanita lari menuju jembatan. Tiba-tiba wanita itu langsung naik ke jembatan dan loncat ke Sungai Cikaniki. “Cepat banget kejadiannya, tahu-tahu sudah loncat,” kata Nurdin.

Tubuh korban pun ditemukan sudah tergeletak. Wanita yang diketahui bernama Santi (29) itu tak sadarkan diri usai badannya menghantam batu yang ada di pinggir Sungai Cikaniki.

Selang 15 menit dari kejadian, suaminya, Emon, datang ke TKP. Lelaki yang baru menikahi korban satu tahun lalu itu ikut menggotong tubuh sang istri yang sudah tak berdaya.

Menurut Kapolsek Leuwiliang Kompol Moch Imam Sudarso, berdasarkan keterangan saksi mata, korban terlihat berlarian ke arah jembatan tersebut sebelum akhirnya loncat ke sungai. “Saksi mata melihat korban lari ke arah jembatan dan bunuh diri di Sungai Cianten. Namun korban jatuh tepat di bebatuan. Saat ditolong warga dan suaminya, korban masih hidup namun sudah tidak sadarkan diri,” paparnya.

Imam mengatakan, korban sempat bertahan hidup selama 90 menit sebelum akhirnya mengembuskan napas di RSUD Leuwiliang. “Korban ditemukan pukul 11:30 WIB. Setelah itu langsung dibawa ke RSUD Leuwiliang. Posisinya waktu itu masih hidup tapi pada pukul 13:30 WIB korban dinyatakan meninggal dunia,” ujar Imam.

Pihak keluarga pun langsung membawa jasad korban ke rumah duka. Di rumah duka, keluarga korban sudah berdatangan. Isak tangis pun tak terbendung saat jenazah korban tiba di Kampung Lapangsari, RT 03/04, Desa Leuwimekar, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Kabarnya, Santi yang baru melahirkan satu bulan lalu itu mengalami depresi alias stres. Hal ini dibenarkan tetangga korban, Rere, berdasarkan obrolannya dengan suami korban. “Cuma kemarin baru saja melahirkan anak pertamanya. Sampai saat ini alasan bunuh diri karena korban depresi,” tutur Rere.

Menurutnya, selama ini korban dikenal tertutup. “Nggak terlalu kenal karena orangnya tertutup. Cuma katanya waktu istrinya bunuh diri, suaminya itu lagi buatin susu anaknya,” kata Rere.

Selama ini, korban diketahui merintis usaha counter bersama sang suami. Emon, suami korban, memiliki dua counter gawai di Leuwiliang dan Galuga. “Sehariharinya jadi ibu rumah tangga. Terkadang suka nongkrong atau jaga counter sama suaminya,” ujarnya.Terpisah, orang tua korban, Sutikno, mengaku anaknya mengalami depresi usai melahirkan anak pertamanya secara normal. Sampai-sampai kondisinya sering tidak terkontrol. “Dia juga lagi jalani pengobatan tapi malah kelewat begini,” sesalnya. (mgh/c/feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here