METROPOLITAN – Memindahkan pedagang malam di sepanjang Jalan Suryakencana ke lahan eks Pasar Gembrong Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, jadi Pekerjaan Rumah (PR) yang mesti diselesaikan satu minggu ke depan, sesuai instruksi wali kota saat meninjau lokasi, Selasa (6/11). Direktur Operasional (Dirops) Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ), Syuhairi Nasution, mengatakan, saat ini kondisi lahan tersebut belum ada perubahan sejak dibongkar beberapa waktu lalu.

Peninjauan yang dilakukan wali kota Selasa (6/11), diharapkan bisa mempercepat proses perapian lahan. ”Makanya proses perataan diambil alih Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Kami hanya membantu skema,” terang Syuhairi saat ditemui Metropolitan di Pasar Sukasari, kemarin. Sebab, sambung Syuhairi, wali kota ingin percepatan dalam perapian lahan tersebut. Jadi, meskipun sudah siap, proses di perusahaan pelat merah itu mengharuskan proses lelang. ”Kalau mulus bisa cepat, kalau tidak? Ya bisa berminggu-minggu. Itu yang tidak diinginkan Pak Wali,” ujarnya.

Sehingga, jelas Syuhairi, tugas PD PPJ hanya menyediakan lahan dan mengatur pedagang agar tidak berebut tempat. Sedangkan pengaturan posisi pedagang, tergantung data Dinas Koperasi dan UMKM. “Siapa ke mana, itu juga diatur. Ada tempat untuk (pedagang) basah, ada tempat (pedagang) kering. Itu ada di (dinas) UMKM,” katanya. Selain itu, menurut dia, persoalan sampah menjadi kewajiban Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) besutan Andri Latif itu melalui Unit Pasar Sukasari.

Sebab, pedagang malam Surken didominasi pedagang sayur, buah hingga ikan yang setiap hari memproduksi sampah usai berjualan. ”Sampah dan keamanan itu ada di kami. Memang tidak bisa pakai tempat sampah yang ada sekarang, karena habis digunakan pedagang. Sehingga harus dibuat di lahan relokasi,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Unit (Kanit) Pasar Sukasari, Sri Karyatno, mengakui kapasitas tempat penampungan sampah yang ada sekarang hanya menampung dua kubik sampah. Sehingga jika nanti pedagang malam direlokasi ke Sukasari, maka perlu dibangun tempat dengan kapasitas kurang lebih sama. ”Ya perlu nambah, mungkin 2,5 kubikan lagi,” ujar Sri. Sebelumnya, penataan kawasan Jalan Suryakencana (Surken), Kecamatan Bogor Tengah, memberikan dampak bagi semua pihak. Tak terkecuali pedagang malam yang bakal terusir dari Jalan Surken.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor pun akan memindahkan pedagang basah dari Lawang Suryakancana hingga Kampus Kesatuan ke bekas Pasar Gembrong. Wali Kota Bogor, Bima Arya, mengatakan, pemindahan pedagang basah di Surken terbilang mendesak, sehingga dirinya ingin relokasi bisa segera dilakukan. Perataan dan perapihan bekas Pasar Sukasari tersebut mutlak dikerjakan dalam waktu dekat. Bima mengklaim komunikasi sudah dibangun dinas terkait dan unsur wilayah.

Hanya saja, pedagang butuh kejelasan soal kapan bakal direlokasi. “Pindahnya ke sini (eks Pasar Sukasari, red), makanya kami cek untuk melihat kondisi dan kesiapannya. Satu minggu ke depanlah kami mengondisikan ini. Lalu bertahap pedagang akan pindah,” ujarnya usai inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Sukasari, kemarin. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), sambung Bima, sebanyak 128 pedagang berjualan di kawasan Pasar Bogor dan Suryakencana.

Yang didata sesuai nama dan alamat serta sebagian besar pedagang basah. Setelah meninjau ke lokasi, politisi PAN itu menilai lokasi eks Pasar Sukasari dianggap mampu menampung para pedagang. ”Kapasitas di sini bisa mencapai 400 pedagang, rencananya berukuran 2×2 ya. Prioritas ini untuk semua pedagang malam,” katanya. Sedangkan pedagang kaki lima siang yang berjualan di trotoar, sambung Bima, akan bertahap direlokasi.

Sebab, penataan pedestrian Surken segera dimulai, setelah ada pemenang lelang dan masuk masa sanggah. “Kalau mereka sebagian masuk Plaza Bogor. Meskipun untuk di sebelah kanan jalan, ada beberapa pedagang yang sudah lama, ‘legend’ lah, sebagian dipertahankan,” paparnya. (ryn/b/yok/py)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here