METROPOLITAN – Peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang di Bogor semakin memprihatinkan. Sebagai kota yang sangat dekat dengan Jakarta, Bogor memiliki akses strategis dalam peredaran barang haram tersebut. Tak ayal, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Bogor mencatat kurang lebih 900 ribu orang di Bogor yang menyalahgunakan narkoba.

“Jumlah ini termasuk Kota dan Kabupaten Bogor yang didominasi pekerja, pelajar dan warga kelas menengah bawah,” terang Kepala BNN Kabupaten Bogor, Nugraha Setya Budi, usai Sosialisasi P4GN di Paseban Sri Baduga, Balai Kota Bogor, beberapa waktu lalu.

Dengan jumlah sebanyak itu, lanjut Nugraha, Bogor berada di urutan kedua dalam hal peredaran narkoba tertinggi se-Provinsi Jawa Barat setelah Kota Bandung. Sementara Provinsi Jawa Barat berada di urutan kelima tertinggi se-Indonesia. Tak ayal, BNN Kabupaten Bogor terus berupaya menurunkan angka tersebut dengan berbagai upaya. Mulai dari program pencegahan, pemberantasan hingga pemulihan.

“Salah satunya dengan menekan pengguna, otomatis bisa menekan dan mengurangi penyuplaian narkoba. Lalu, menekan pengguna akan mempermudah proses pemulihan. Bagi warga yang terkena penyalahgunaan narkoba bisa dibawa ke puskesmas bekerja sama dengan BNN dan akan diobati gratis,” jelasnya.

Ketua BNK Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat, mengatakan, sosialisasi ini merupakan salah satu program kerja BNK Kota Bogor untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya tiga pilar (bhabinsa, bhabinkamtibmas, lurah dan puskesmas) akan bahaya narkoba yang terus menjadi ancaman nyata bagi generasi saat ini.

Mengingat dari data yang ada, penyalahgunaan narkoba di Kota Bogor banyak terjadi pada pelajar. “Ini fakta yang menyedihkan dan seharusnya menyadarkan kita semua untuk melangkah bersama dan bergandengan tangan memberantas narkoba, terutama peran orangtua sangat diperlukan untuk menjaga anak-anaknya,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Instalasi Pemulihan Ketergantungan NAPZA RSMM, Ai Sri Kartika, mengatakan, dari tahun ke tahun masalah narkoba selalu ada.

Hanya saja yang menjadi permasalahan yakni perkembangan barang haram tersebut semakin banyak dengan mencampurkan berbagai zat-zat baru atau jenisjenis obat yang disalahgunakan.

Seperti yang baru-baru ini marak, yakni adanya narkoba jenis gorila dan flaka. Bahkan, ada pula yang menyalahgunakan pemakaian obat sakit kepala hingga akhirnya overdosis.

“Semua penyalahgunaan obat-obatan berbahaya berisiko pada kematian. Kami di RSMM setiap tahunnya menangani hampir 50 pasien penyalahgunaan narkoba, baik ganja, sabu, heroin dan obatobatan yang disalahgunakan,” pungkasnya.(ads/c/yok/py)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here