METROPOLITAN – Habib Bahar bin Smith akhirnya memenuhi panggilan Bareskrim Polri untuk menjalani pemeriksaan pada Kamis (6/12).

Bahar datang mengenakan gamis putih dengan sorban bermotif cokelat yang dikerudungkan ke kepalanya. Bareskrim Polri memeriksa Habib Bahar bin Smith sebagai saksi terlapor dalam kasus ujaran kebencian dan penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo.

Dalam pemeriksaan itu, sejumlah massa dari berbagai ormas tampak memberikan pengawalan. Ada yang mengawal sampai lobi Bareskrim. Ada juga yang mengawal dengan cara berdemo di depan kantor Bareskrim sementara yang ada di Gambir, Jakarta Pusat. Massa yang menggelar aksi berasal dari Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI).

Kemudian ada juga sejumlah santri menyampaikan aspirasinya dengan menaiki mobil komando yang sudah dilengkapi dengan pengeras suara. Kuasa hukum Bahar, Sugito Atmo Pawiro mengatakan, pengawalan itu adalah hal biasa. ”Intinya mengawal saja (pemeriksaan Habib Bahar),” kata dia, Kamis (6/12).

Sementara itu, Habib Novel Bamukmin yang juga jadi pengacara Bahar mengatakan, massa yang hadir di lokasi berjumlah sekitar seribu orang. Diketahui, Habib Bahar dilaporkan atas dugaan melanggar Pasal 207 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b angka 1 dan Pasal 45 ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Selain itu, Bahar juga dilaporkan di Polda Metro Jaya oleh Muannas Alaidid. Laporan tersebut terdaftar dengan nomor : LP/6519/XI/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus tertanggal 28 November 2018. Kabagpenum Divhumas Polri Kombes Syahar Diantono menegaskan, dalam kasus dugaan penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo, Habib Bahar bin Smith yang menjadi terlapor berpotensi menjadi tersangka.

Hal itu bisa terwujud, kalau penyidik telah mengantongi dua alat bukti yang cukup. ”Penyidik yang mempertimbangkan. Ada mekanisme, ada gelar perkara, analisa, selama alat bukti cukup, bisa saja (jadi tersangka). Sekarang, masih saksi,” ujar dia di Mabes Polri, Kamis (6/12).

Penyidik, menurutnya, telah menemukan adanya alat bukti terkait materi ceramah Habib Bahar yang menyebut Presiden Jokowi banci. Namun, kewenangan penentuan status Habib Bahar ada di tangan penyidik. ”Penyidik sudah menemukan alat bukti terkait itu,” ucap Syahar.

Dia menambahkan, penyidik terus fokus mencari adanya dugaan tindak pidana terkait dengan pelanggaran pada Undang-undang Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan Pasal 207 KUHP dengan ancaman pidana lebih dari lima tahun penjara. ”Fokus pemeriksaan UU nomor 40 tahun 2008. Arah penyidikan, setelah ditemukan alat bukti mengarah ke pidana UU nomor 40,” kata Syahar. (jp/feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here