Metropolitan – Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB)  Prof Dr Hadi Susilo Arifin  mengatakan,  untuk menciptakan Kota Ramah Air di Bogor Raya (kabupaten dan kota) diperlukan transformasi implementasi pengolahan air perkotaan menjadi sistem yang lebih berkelanjutan.

Water Sensitive Cities (Kota Sensitif Air) atau Kota Ramah Air adalah suatu konsep kota di masa yang akan datang dimana tidak hanya memenuhi kebutuhan air perkotaan, tetapi bagaimana sumberdaya air sekaligus memberi manfaat untuk meningkatkan kenyamanan tinggal di kota tersebut dan kota yang memiliki kelentingan (resilient) dan memiliki daya tahan terhadap air.

“Sumberdaya alam Bogor yang berlimpah, ratusan danau alami, Kebun Raya Bogor (KRB) yang terkenal dan reputasi sebagai Kota Hujan sangat ideal untuk melakukan transformasi ke Kota Ramah Air. Kegiatan penelitian Bogor Ramah Air sudah dilakukan di wilayah pulau Geulis, Griya Katulampa, Cibinong Raya dan Sentul City yang berlokasi di kota dan kabupaten Bogor,” ujarnya saat memberikan Keynote Speech dalam Diseminasi dan Pameran bertemakan “Bogor Ramah Air” di IPB International Convention Center, (IICC), Bogor (4/12/2018).

Tim Urban Water Cluster (WSC) The Australia – Indonesia Centre yang didukung oleh para peneliti dari berbagai perguruan tinggi (IPB, Universitas Indonesai (UI) dan Monash University Australia.

Acara ini digelar untuk memberikan pondasi yang kuat dalam mengatasi tantangan multidimensi yang diperlukan sebagai komitmen dalam mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan di Bogor.

“Tim WSC telah menerapkan kerangka kerja Kota Ramah Air di Bogor, baik di tingkat kota maupun kabupaten untuk memperkuat dan memfasilitasi aspirasi air yang berkelanjutan. Pendekatan Kota Ramah Air mencakup solusi lintas sektoral dan terintegrasi yang memberikan berbagai manfaat seperti lingkungan yang sehat, ketersediaan sumber air dan masyarakat yang saling mendukung,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor IPB, Dr. Arif Satria dalam sambutannya mengatakan bahwa hasil penelitian para ahli ini sangat bermanfat dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Ini juga merupakan bahan masukan yang sangat berharga bagi pemerintah kota dan kabupaten Bogor dalam merancang pembangunan yang berwawasan lingkungan terutama yang berkaitan dengan penyediaan sumberdaya air.

“Sekarang ini krisis air bersih sangat luar biasa tinggi. Untuk itu dibutuhkan sinergi antara para stakeholder seperti akademisi, bisnis, government, community dan media untuk saling bersatu, bahu membahu menciptakan Bogor baik kota maupun kabupaten menjadi kota ramah air,“ kata Rektor.

Menurutnya para peneliti juga telah bekerjasama dengan para pemangku kepentingan dan memahami pengetahuan lokal masyarakat tentang sistem air di Bogor.

Terutama dalam kapasitas konsep kota yang ramah air (Water Sensitive City) yang perannya penting dalam membangun kota yang tangguh dan layak huni di masa depan.

Rektor menambahkan, masyarakat mendapatkan edukasi akan pentingnya menjaga lingkungan yang bersih, sehat dan menghargai air bersih untuk kehidupan sekarang dan masa depan. (*)

Sumber : Tribunnews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here