METROPOLITAN – Kamis sore, suara gemuruh terdengar di langit Bogor. Dalam hitungan menit, angin kencang memorak-porandakan ratusan rumah di wilayah Bogor Selatan. Atap rumah beterbangan hingga menumbangkan banyak pohon. Sampai-sampai seorang pengendara tewas terjebak dalam mobilnya yang tertimpa pohon besar. Braak..!!

SEKETIKA pohon besar langsung menghantam mobil Avanza silver yang dikendarai Enny Reno (45) saat melintas di Jalan Lawanggintung. Mesin mobilnya langsung mati. Kondisinya hancur. Pengemudi berhijab itu tak lagi bersuara saat kerumunan warga mencoba memanggilnya. “Bu, ibu sadar bu. Itu berdarah telinganya, bu,” ucap seorang warga yang coba mendekat ke arah mobil Enny. Tubuh Enny terjepit pohon besar. Tak ada gerakan ataupun suara dalam mobil tersebut.

Enny tewas di lokasi kejadian hingga akhirnya petugas mengevakuasinya ke RS PMI. Kapolsek Bogor Selatan Kompol Riyanto mengatakan, peristiwa nahas itu terjadi saat Enny akan menjemput anaknya pulang sekolah di salah satu SMA negeri di Kota Bogor. Riyanto menyatakan bahwa korban sudah meninggal di TKP. “Saat dievakuasi sudah meninggal,” kata Riyanto.

Ia menjelaskan, mobil yang dikemudikan warga Bogor Nirwana Residence (BNR), Bogor Selatan, Kota Bogor, itu tertimpa pohon kenari saat hujan deras dan angin puting beliung. ”Pohon itu tepat menimpa kaca depan mobil dan langsung mengenai korban,” ujarnya. Di rumah duka, satu per satu keluarga dan tetangga korban berdatangan ke kediaman almarhum di Perumahan BNR, RT 03/12, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kamis (6/12) malam.

Anak pertama Enny, Aziz Arrizal Sugeha (20), mengaku saat kejadian sedang kuliah di Kampus Unpak. Tak lama kemudian diberitahukan keluarga bahwa sang ibu kecelakaan. Menurut keterangan sang nenek, rencananya Enny keluar menggunakan mobil untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Terlihat dalam mobil juga masih terdapat barang belanjaan korban.

”Paginya mama sempat bilang ke saya, malam minta dipijit karena mama senang dipijit,” ujarnya. Korban meninggalkan tiga anak dan meninggal dunia dalam keadaan berpuasa. Sebelum meninggal, korban rupanya sempat berpesan kepada anak sulungnya, Aziz Arrazi Sugeha, agar memimpin salat jenazah ketika dirinya meninggal. ”Pesan mama ke saya, ketika ia meninggal agar disalatkan,” katanya.

Sementara suami korban, Abraham Sugeha, mengaku istrinya sangat menyukai jalur Lawanggintung sehingga bisa dibilang itu jalur favoritnya. Istrinya melintas di Jalan Lawanggintung sehabis mengantar anak bungsu yang bernama Nurul untuk les. Setelah itu berbelanja kebutuhan sehari-hari. ”Saya mendapat informasi dari nomor istri saya dan ada nomor lain juga. Saat saya cek ke rumah, benar informasinya dan bergegas ke tempat kejadian,” bebernya usai salat Isya di Masjid Almuhajirin.

Ia menuturkan, sampai di tempat kejadian sudah banyak polisi dan aparat TNI tengah mengevakuasi jenazah istrinya dari dalam mobil yang tertimpa pohon. ”Istri saya dalam keadaan puasa dan sudah mempersiapkan bukaan. Sikapnya biasa, ia juga pernah mengendarai mobil sendirian ke Bandung,” tambahnya. Abraham membeberkan, saat kejadian, dirinya tengah bekerja. Sedangkan sang istri kegiatannya ibu rumah tangga tapi sering sekali ikut pengajian.

Di rumah dipanggil mama dengan sikap yang bijaksana, juga teladan dalam hal beribadah yang wajib maupun sunah tidak terlewat dilakukan almarhum. Pesan istri kalau meninggal, anak pertamalah yang harus memimpin salat jenazahnya. ”Untuk pemakaman, saya masih berdiskusi dengan keluarga, almarhum akan dimakamkan di mana.

Almarhum meninggalkan tiga anak, yang pertama Aziz, kedua Mutiara Razak Sugeha (19) tengah kuliah di Unpad Bandung dan Nurul Izza Afifah Sugeha (14) masih belajar di SMA Negeri 3 Kota Bogor,” kata Abraham. Untuk diketahui, angin puting beliung menerjang kawasan Bogor Selatan dan Bogor Timur. Ada 848 rumah yang kena dampaknya. Di Bogor Selatan, ada 770 rumah yang mengalami rusak berat dan ringan.

Ini tersebar di empat kelurahan, meliputi Batutulis, Pamoyanan, Cipaku dan Lawanggintung. Sedangkan di Bogor Timur, angin puting beliung menerjang kawasan Baranangsiang dan Sukasari merusak 78 rumah (lihat grafis). Kabag Ops Polresta Bogor Kompol Fajar Hari Kuncoro mengatakan, saat angin puting beliung, ada 20 kejadian pohon tumbang. Sebanyak lima kendaraan rusak ketimpa pohon.

”Ada 770 rumah rusak berat dan ringan, di antaranya 160 rumah di Kelurahan Batutulis, 300 rumah di Kelurahan Pamoyanan, 225 rumah di Kelurahan Cipaku dan 85 rumah di Kelurahan Lawanggintung,” ujarnya. Lurah Batutulis Ahmad Royadi menuturkan, rata-rata rumah yang rusak terjadi pada bagian atapnya.

Saat ini pihaknya masih melakukan evakuasi terhadap korban puting beliung dengan berkoordinasi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) supaya nantinya perlu dibangunkan posko bencana atau tidak. ”Di Kelurahan Batutulis terdapat 190 Kepala Keluarga (KK) yang berasal dari RT 01, 02 dan 03 RW terpaksa mengungsi di Masjid Al Mutadin.

Kendati demikian, sebagian korban masih menjaga barang berharga yang ada di rumahnya,” ujarnya. Selain itu, lanjut Ahmad, angin puting beliung juga menyebabkan empat unit mobil dan puluhan sepeda motor, dua di antaranya merupakan angkot 14 berpelat nomor F 1909 AZ dan angkot 02 F 1932 AF juga ringsek dihantam pohon. (ads/d/feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here