METROPOLITAN – Menurut kebanyakan orang, mempersiapkan pernikahan itu gampang-gampang susah. Apalagi jika ingin menggunakan adat pasti lebih repot. Namun, jika didiskusikan bersama-sama pasangan pasti lebih gampang.

Aku dan kekasihku telah berpacaran selama bertahun-tahun lebih tepatnya sudah 8 tahun bersama. Banyak orang yang telah bertanya kepadaku, “Kapan menikah?” Jawabanku hanya satu yaitu, “Doakan saja secepatnya,” sambil melemparkan senyum manisku.

Ketika aku bertanya kepada kekasihku kapan dia akan melamarku. Dia selalu mengelak. Dia selalu bilang, ”Nanti ya, karierku sedang naik nih,” atau, ”Nanti ya. Uangnya belum terkumpul”.

Saat itu aku hanya percaya saja dia karena kami memang sedang meniti karier masing-masing. Aku juga mempunyai sahabat. Sebut saja namanya N. Aku dan N sudah bersahabat selama 10 tahun sejak duduk di bangku SMA.

Sepengetahuanku, N belum mempunyai kekasih. Dia enggan menikah karena baginya semua cowok itu sama. Hanya janji palsu. Kalau soal itu, aku sepaham. Namun, aku yakin kekasihku tak akan seperti itu. Pertemuan kami bertiga semakin intens saja. Terlebih lagi sahabatku suka nebeng naik mobil kami.

Saat itu, aku tidak mempunyai pikiran negatif sedikit pun tentang mereka. Aku tak ambil pusing hanya saja dari beberapa teman kantor sering menyarankan agar kekasihku tak menemui sahabatku setiap hari. Takut kepincut nantinya. Saat temanku berkata seperti itu, ada perasaan berkecamuk di dalam diriku. Apa benar akan terjadi seperti itu? Semoga saja tidak.

Hubunganku mulai goyah saat jalan tahun ke-8. Kekasihku sering tak memberi kabar jika dia pergi. Jika diajak jalan, dia selalu mencari alasan. Aku tetap saja masih berpikiran positif dan percaya padanya walaupun dalam hati pasti ada yang tidak beres kepadanya. Berulang kali aku telepon ke nomornya selalu tidak aktif.

Sampai suatu ketika, sahabatku mengirimkan pesan singkat kepadaku. Katanya dia mau menikah dua bulan lagi ke depan. Jadi, dia memintaku untuk menemaninya dirinya mempersiapkan pernikahannya. Tentu saja dengan senang hati aku menemaninya. Ah, rasanya seperti aku saja yang ingin menikah.

Seandainya kekasihku segera melamarku. Pasti saat ini aku sangat excited mempersiapkan semuanya. Ada satu hal yang janggal di diri sahabatku. Ketika aku bertanya siapa calonnya. Dia mengelak. Katanya aku bakalan tahu sendiri seiring berjalannya waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here