KISAH JUNIS ISKANDAR SEBAGAI PLD DI KECAMATAN BOJONG GEDE DARI TIDAK MENGENAL WAKTU SAMPAI DIKENAL BANYAK ORANG

by -
IST/METROPOLITAN

METROPOLITAN – Meski terbilang masih baru, Junis Iskandar sudah banyak pengala­man sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD) di Kecamatan Bojong­ gede, Kabupaten Bogor. Dari tidak mengenal waktu sampai dike­nal banyak orang jadi pengalaman baru bagi bapak dua anak ini. Lantas, seperti apa kiprah perjalanan karirinya? Berikut wawan­cara Harian Metropolitan bersama suami dari Iliarti ini:

 Sejak kapan Anda bekerja sebagai PLD?

Saya merupakan salah satu dari 1.200 orang yang lolos mengikuti PLD dari 8.000 peserta se-Jawa Barat. Saya lulus tes PLD itu pada tahun 2016 dan mu­lai di tugaskan awal tahun 2017. Tugas pertama saya sampai saat ini itu di Kecamatan Bojonggede, menaungi Desa Rawa Panjang, Bojong Baru, Bojongg Gede hingga Ragajaya.

Apa yang melatarbelakangi Anda mau bekerja sebagai PLD?

Saya sangat tertarik dengan peker­jaan ini. Karena, kami mengabdi ke masyarakat untuk membangun desa dari pinggiran. Sama seperti tujuan hidup saya.

Setelah bergabung, apa yang ing­in Anda lakukan?

Tentunya sama sesuai dengan visi misi dari Kementerian Desa, Pembangu­nan Daerah Tertinggal dan Trans­migrasi Indonesia, yaitu untuk me­ningkatkan keberdayaan masyarakat di sebuah desa dan mewujudkan desa yang maju, mandiri serta sejah­tera.

Lalu, bagaimana untuk target ke depan?

Ada empat hal yang harus kami per­hatikan dan harus berjalan. Dianta­ranya, melakukan fasilitasi perenca­naan pembangunan dan keuangan desa. Lalu, melakukan fasilitasi pelaks­anaan pembangunan desa. Kemu­dian, melakukan fasilitasi pengelo­laan keuangan desa dalam rangka pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Serta, melakukan fasilitasi evaluasi pelaksanaan pembangunan desa.

Terakhir, selama bekerja sebagai PLD adakah pengalaman menarik yang anda alami?

Banyak suka duka yang saya alami setelah bekerja sebagai PLD ini, khu­susnya di Kecamatan Bojonggede. Dari tidak mengenal warga sampai kepala desa, saat ini saya jadi menge­nal mereka.

Kalau untuk dukanya, mungkin lebih ke tidak mengenal waktu. Karena, saya ini bisa dikatakan bekerja selama 24 jam. Ketika ada pengerjaan pembangunan yang dilakukan malam hari tentu kami harus turun. Waktu sama keluarga yang akhir­nya sedikit berku­rang. Tetapi, biasanya saya luangkan waktu untuk keluarga di hari libur. (yos/c/rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *