METROPOLITAN – Meski masih seumur jagung, Muhammad Rusydi Kamal sudah memahami kepemiluan. Kini, pria yang akrab disapa Akmal ini merupakan Panitia Pengawas Kelurahan dan Desa (PPKD) di Kelurahan Tanah sareal, Kota Bogor. Dalam perjalanannya, Akmal memiliki mimpi dapat mewujudkan pemilu damai di Kota Hujan. Lantas gagasan seperti apa yang dimilikinya? Berikut wawancara Harian Metropolitan bersama seorang guru ini:

Sejak kapan Anda menjadi penyelenggara pemilu?

Saya menjadi PPKD baru Januari 2018. Sebelumnya saya ini seorang pengajar atau guru, tetapi masih aktif sampai saat ini.

Apa yang memotivasi Anda mau menjadi penyelenggara pemilu?

Alasan utamanya adalah ingin mencoba pengalaman baru. Setelah di jalani, saya menikmatinya.

Lalu, gagasan seperti apa yang Anda miliki sebagai penyelenggara pemilu?

Paling utama adalah saya ingin mengawal para kontestan pemilu yang jadi nanti, merupakan pemimpin yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Artinya, mereka mengikuti proses pemilu ini dengan menyesuaikan aturan atau tidak melakukan pelanggaran.

Bagaimana dengan targetnya?

Target yang saya ingin wujudkan adalah pemilu saat ini bisa berjalan dengan damai, jujur, adil dan bijak. Bahkan, kalau bisa menghilangkan isu sara yang saat ini sedang tinggitingginya. Termasuk, para kontestan yang bertanding di pemilu saat ini tidak melakukan money politik dan ASN tidak terlibat menjadi tim sukses.

Lantas, cara seperti apa yang Anda lakukan?

Tentunya cara yang dilakukan adalah dengan mengedukasi masyarakat, tentang aturan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan selama masa kampanye ini. Termasuk, kita libatkan juga mereka sebagai pengawas pemilu di tingkat bawah, bagaimana mencegah pelanggaran. Kita lakukan dengan cara pendekatan emosional, yakni lewat secangkir kopi dengan duduk bersama lalu berdiskusi.

Adakah pesan yang ingin Anda sampaikan ke masyarakat?

Pesan saya hanya satu, perbedaan pemilih  adalah suatu hal lumrah di dal a m masyarakat. Akan tetapi, masyarakat harus mendewasakan diri dalam pesta demokrasi ini. Artinya, jangan sampai hanya karena berbeda dukungan malah menjadi musuh.

Terakhir, selama menjadi penyelenggara pemilu adakah suka duka yang Anda rasakan?

Sukanya tentu saya memiliki pengalaman baru dan tali silaturahmi bersama warga lainnya terus bertambah. Untuk dukanya, mungkin waktu dengan keluarga hanya ada empat sampai lima jam saja dalam sehari. Namun, saya bersyukur alhamdulilah istri mengerti dan  memahami kerjaan saya ini. (rez)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here