METROPOLITAN – BISNIS ruang hubungan suami istri alias kamar seks di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin berhasil terkuak. Otaknya tak lain suami artis lawas Inneke Koesherawati, Fahmi Darmawansyah, yang menjalani masa tahanan sejak Juni 2017.

RUANG berukuran 2×3 lengkap dengan fasilitas kamar tidur, AC dan TV sengaja dibangun Fahmi dalam Lapas Sukamisk­in. Sejak mendekam di penja­ra, Fahmi berhasil meluluhkan hati eks Kalapas Sukamiskin Wahid Husen untuk mengizin­kannya membangun kamar ‘begituan’ demi memenuhi kebutuhan biologis.

Sebagai gantinya, Fahmi yang menjadi terpidana kasus ko­rupsi proyek di Badan Keama­nan Laut (Bakamla) itu meny­uap Wahid berupa uang hing­ga mobil agar diberikan fasili­tas istimewa tersebut. Termasuk soal kebutuhan biologis. Wahid membiarkan Fahmi membangun kamar ‘begituan’ di area lapas. Tak hanya untuk keperluannya sendiri, Fahmi juga mematok tarif kepada na­rapidana lainnya jika ingin menggunakan bilik tersebut.

Sehingga meski berstatus ta­hanan, suami aktris Inneke Koesherawati itu tetap memi­liki pendapatan dari bisnis yang ia kelola bersama seorang na­rapidana kasus pembunuhan yang menjadi asisten pribadi­nya, Andri Rahmat.  “Dilengkapi tempat tidur un­tuk keperluan melakukan hu­bungan badan suami istri, baik itu dipergunakan Fahmi Dar­mawansyah saat dikunjungi istrinya, maupun disewakan Fahmi Darmawansyah kepada warga binaan lain dengan tarif Rp650 ribu,” ujar anggota penuntut umum KPK Muham­mad Takdir Suhan saat mem­bacakan surat dakwaan Wahid Husen di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Se­lasa (5/12).

Sebagai  imbalannya, Fahmi memberikan hadiah berupa mobil jenis Double Cabin 4×4 merek Mitsubishi Triton ber­warna hitam kepada Wahid. Kesepakatan itu didapat setelah Andri Rahmat berbicara dengan Wahid di ruang kerja kalapas, April 2018. Pilihan jenis mobil itu memang didasari keinginan Wahid sendiri. “Saat itu Andri sedang memijat terdakwa (Wahid, red) yang se­dang browsing internet melihat mobil jenis Double Cabin 4×4, lalu Andri menawarkan apabila menginginkan jenis mobil itu maka Andri akan menyampai­kannya ke Fahmi,” tutur jaksa Takdir.

“Esok harinya, Andri menyampaikan hal ini kepada Fahmi yang kemudian memu­tuskan untuk membelikan pro­duk terbaru mobil jenis Double Cabin 4×4 merek Mitsubishi Triton,” sambung Takdir. Dalam transaksi suap ini, Fahmi melibatkan Inneke un­tuk mencarikan mobil jenis itu di diler. Inneke lalu meminta bantuan adik iparnya, Deni Marchtin, untuk mencari mo­bil tersebut di pameran JIExpo, Jakarta. Deni memesan mobil itu dengan harga On The Road (OTR) sebesar Rp427 juta.

Pemesanan mobil itu sempat dibatalkan lantaran hanya bisa dibeli secara inden, sehingga harus menunggu dalam kurun sebulan. Wahid yang merasa keberatan akan hal itu me­minta Andri mencari diler lain di kawasan Bekasi. Pada 19 Juli 2018, Double Ca­bin incaran Wahid akhirnya didapat dan diantar ke rumah Wahid di Bojongsoang, Kabu­paten Bandung, sekitar pukul 22:00 WIB. Mobil itu dibawa langsung adik ipar Fahmi, Ike Rachmawaty, dan diserahkan langsung ke Wahid.

Suap untuk Wahid diberikan agar Fahmi mendapat fasilitas mewah dalam sel. Kamar sel Fahmi dilengkapi televisi be­serta jaringan TV kabel, pending­in ruangan (AC), tempat tidur spring bed hingga dekorasi interior High Pressure Lami­nated (HPL). Fahmi juga dii­zinkan menggunakan telepon genggam selama di lapas.

Wahid bahkan mempercaya­kan Fahmi dan Andri untuk mengelola kebutuhan narapi­dana, seperti membuka jasa renovasi sel hingga pembuatan saung. Selain bilik asmara, Fahmi juga memiliki kebun herbal di area lapas. ”Selain itu, Fahmi juga mendapatkan ke­mudahan untuk berizin obat ke luar lapas,” ungkap Takdir.

Fahmi Darmawansyah meru­pakan terpidana kasus suap pengadaan satellite monitoring dan drone untuk Badan Kea­manan Laut. Suap diberikan agar perusahaan Fahmi, PT Melati Technofo Indonesia (MTI) dan PT Merial Esa, menjadi pemenang dalam tender proy­ek itu. Hakim pun memvonis­nya dengan hukuman 2 tahun 8 bulan penjara. (km/feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here