METROPOLITAN – Ayah mengatakan akan datang saat hari pernikahanku nanti. Aku yang mendengar paman berkata begitu sungguh merasa sangat sedih. Aku merasa iri dengan anak-anak perempuan di luar sana yang ketika dilamar seorang laki-laki maka sang ayah akan menyambut dan menerima dengan baik maksud si laki-laki.

Namun, semuanya tidak akan pernah dan bisa aku dapatkan hingga kapanpun, hingga saat setelah aku menikah pun. Pada saat hari pernikahanku telah tiba, ayah benar-benar datang. Aku merasa senang saat itu karena meskipun aku tidak akan mendapatkan hal-hal yang aku sebutkan itu. Setidaknya ayah tidak melupakan bahwa ia adalah waliku, bahwa ia adalah orang yang berhak menikahkanku.

Saat prosesi pengucapan ijab qabul pun ayah melakukannya secara langsung dan menjabat mantap tangan suamiku tanpa diwakilkan oleh siapapun. Hal itu membuatku sangat terharu dan sangat senang pada saat bersamaan. Aku masih bisa meyakini diriku sendiri bahwa ayah masih memiliki sedikit peduli terhadapku. Meskipun setelahnya ayah hanya sebentar saja berada disitu dan segera pulang. Tetapi hal itu cukup, sangat cukup untuk diriku.

Kami melaksanakan pesta pernikahan 4 bulan setelah akad nikah dilaksanakan, sebab ada beberapa urusan pekerjaan yang harus aku dan suami selesaikan terlebih dahulu. Aku dan suami bingung apakah ayah akan mau datang dan duduk di kursi di sebelahku ketika pesta pernikahan nanti dilakukan. Karena ayah menikah lagi 2 minggu setelah kami menikah. Ia menikah dengan perempuan yang menjadi salah satu penyebab perceraian ayah dan ibu.

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here