METROPOLITAN – Ayah dan ibuku bercerai ketika aku masih duduk di tahun terakhir sekolah menengah pertama. Aku dan adik lebih memilih untuk ikut tinggal bersama ibu daripada ayah. Karena kami merasa lebih aman bersama ibu. Setelah sekian tahun berlalu, aku yang sudah tidak pernah lagi menjalin komuni-kasi dengan ayah, mau tidak mau menghubungi ayah selaku waliku ketika seorang pria yang kini menjadi suamiku datang dengan niat dan tujuan baik untuk melamar.

Saat itu aku mengalami dilema besar, antara menghubungi ayah atau tidak. Karena sejak berpisah dengan ibu, ayah dan aku tidak memiliki hubungan yang bisa dikatakan baik bahkan hanya untuk bertukar sapa meskipun kami tinggal di kota yang sama. Dan pada akhirnya aku harus meruntuhkan egoku untuk meng-hubungi ayah. Karena bagaimanapun ayah adalah wali sahku di dalam agama dan negara terlepas apapun masalah yang ada diantara kami.

Pada malam saat suamiku membawa keluarganya untuk me-lamarku dan berbicara kepada keluargaku, akhirnya aku me-nelepon ayah sebelum rombongan suamiku datang untuk memberitahukan dan meminta dirinya hadir. Pada saat teleponku sudah diangkat dan mendengar suaranya, ada sedikit rasa rindu yang memaksa hendak keluar. Namun aku harus bisa bersikap biasa saja untuk menghindari terjadinya konflik pada saat itu.

Setelah mengatakan maksud dan tujuanku menel-pon, ayah sempat terdiam sebentar sebelum akhirnya ia mengatakan dengan lantang ketidaksetujuannya pada niat baik suamiku dan berkata ia tidak dapat hadir pada malam itu. Aku yang mendengar ayah berkata seperti itu tidak dapat lagi menahan tangis lebih lama. Segera aku menutup telepon dan berlari menemui ibu, paman, dan bibi. Aku benar-benar merasa benci terhadap ayah saat itu. Mengapa ia bisa berkata seperti itu? Padahal se-lama ayah dan ibu bercerai, ia tidak pernah men-gurusku dalam artian yang sebenarnya dan mele-paskan tanggungjawabnya sebagai ayah terhadap aku dan adikku. Bahkan untuk nafkah, biaya kehidupan sehari-hari serta pendidikan ia tidak pernah membe-rikan tanggungjawabnya sama sekali. Tetapi mengapa ia menjadi orang yang menghalangi jalan kebaikan.

Melihat aku yang terus menangis hingga tidak dapat berbicara. Paman berinisiatif untuk menelepon ayah kembali. Aku tidak tahu apa yang paman bicarakan dengan ayah. Sesaat setelah selesai menelpon, paman mengatakan akhirnya ayahku setuju dengan lamaran suamiku dan meminta pamanku untuk mengatur semuanya serta cukup beritahukan kapan dan di mana akad nikah akan dilaksanakan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here