METROPOLITAN – 19 tahun aktif di dunia kepemiluan membuat Herry Setiawan matang. Kini, sebagai Komisioner KPU Kabupaten Bogor baru, ia memiliki target menjadikan warga sebagai pemilih yang kritis. Lalu, seperti apa pemilih kritis yang dimaksud mantan jurnalis ini? Berikut wawancara Harian Metropolitan bersama pria berusia 38 tahun:

Sejak kapan Anda aktif di dunia kepemiluan?
Saya aktif sejak tahun 1999. Saat itu saya menjadi salah satu pengawas pemilu di Jakarta melalui Unfrel. Lalu, saya sempat menjadi seorang jurnalis di bidang politik. Kemudian, saya mencoba mendaftarkan diri menjadi penyelenggara pemilu di KPU Kabupaten Bogor. Alhamdulilah, saya keterima menjadi salah satu komisioner-nya.

Apa yang melatarbelakangi Anda mau aktif dalam dunia kepemiluaan?
Saya ingin meningkatkan peran serta kalangan jurnalis dalam kepemiluaan. Mulai dari aturan baru hingga lain sebagainya. Karena, jurnalis merupakan agen sosial di lingkungan masyarakat yang dianggap sebagai orang paling tahu.

Apakah ada yang lain?
Tentunya ada, khususnya dalam memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat Kabupaten Bogor. Karena, masih ada anggapan warga Kabupaten Bogor itu sebagai pemilih tradisional. Artinya, masih ada ketergantugnan terhadap tokoh masyarakat yang ada di sekitarnya atau bisa dibilang patronase dan paternalistik. Nah, ini satu hal yang harus di sadarkan secara kritis. Jadi, bagaimana caranya kita arahkan masyarakat untuk memilih sendiri figurnya dan memilih karena memang pilihan mereka.

Mengejar target itu, bagaimana cara yang Anda lakukan?
Kita lakukan melalui penetrasi pendidikan pemilih dan politik. Itu harus berjalan dan masyarakat harus sadar akan pentingnya menggunakan hak pilih mereka. Jadi, kita arahkan masyarakat agar memilih calon legislatif berdasarkan rasional, bukan emosional. Lalu, layak dan terbaik sehingga mereka tidak di manfaatkan dengan momen jangka pendek ini. Kemudian, untuk pendidikan politik, kita sampaikan kepada partai politik bahwa anggota legislatif itu harus bertanggung jawab dengan konstituennya. Karena, pendidikan politik yang mereka dapat harus balik lagi ke masyarakat.

Apakah ada cara lainnya?
Tentunya kita juga akan melibatkan peran serta elemen masyarakat yang ada. Seperti, desa, kelurahan, RT, RW dan lembaga sosial lainnya. Kita akan berdayakan dan libatkan mereka dalam kepemiluan ini. Tujuannya, agar elemen masyarakat ini mempunyai perhatian dalam kerangka bingkai memberikan pendidikan politik.

Lalu, fokus Anda saat ini seperti apa?
Fokus yang kita kejar adalah membuat masyarakat menjadi pemilih yang kritis. Kenapa pemilih kritis, karena jika itu sudah terbentuk tentu akan berujung kepada pemilih cerdas sehingga menjadikan pemilu yang berkualitas.

Apakah Anda tidak khawatir ketika masyarakat menjadi pemilih kritis akan antipati dengan pemilu?
Memang problemnya ketika masyarakat jadi pemilih kritis ada kekhawatiran mereka antipati dengan pemilu. Meski begitu, kami tidak khawatir, karena kita akan terus menggaungkan kepada warga tentang tanggungjawab menggunakan hak pilihnya, sesuai Undang-Undang yang berlaku. (rez)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here