METROPOLITAN – Meski masih seumur jagung jadi pelatih anggar. Muhammad Indra Haryana sudah menunjukan kebolehannya. Pria berusia 31 tahun ini telah menyumbangkan berbagai penghargaan bersama para atlet dan anak didiknya di Kota Bogor. Lantas, seperti apa kisah perjalanan karir alumni Institut Teknologi Indonesia (ITI) ini? Berikut wawancara Harian Metropolitan bersama Pelatih Anggar Kota Bogor:

Sejak kapan Anda menggeluti olahraga anggar?
Sejak kelas 3 SMA. Saya ini merupakan atlet anggar selama 15 tahun.

Apa yang melatarbelakangi Anda mau menggeluti olaharaga anggar pada saat itu?
Awalnya saya ini hobi dengan olahraga basket dan futsal. Masuk ke anggar karena diarahkan orang tua. Alasannya, karena mereka menganggap olahraga ini jenjang ke depannya sangat baik. Setelah digeluti, memang saya merasakan manfaatnya. Olahraga ini merupakan permainan yang kompleks, dari sendiri hingga tim serta semua olahraga ada disini.

Lalu, kenapa memutuskan jadi pelatih?
Memutuskan jadi pelatih karena saya mengalami cidera tangan saat menjadi atlet. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak meneruskan lagi menjadi atlet. Kemudian, saya mencoba peruntungan baru menjadi seorang pelatih. Alhamudilah, saya dipercaya menjadi pelatih anggar di Kota Bogor. Sudah berjalan sejak awal tahun 2018.

Apakah ada alasan lain?
Setelah memutuskan berhenti menjadi atlet saya tidak kepikiran untuk bekerja di perusahaan atau instansi lainnya. Karena, bagi saya mengembangkan dan menciptakan penerus atlet anggar itu sebuah tanggung jawab. Maka, saya memutuskan untuk menjadi seorang pelatih dan membesarkan anak-anak didik saya ke depan. Apalagi, olahraga anggar ini sudah menjadi hobi bagi saya.

Selama melatih, adakah pengalaman menarik yang Anda miliki?
Banyak dan yang mengejutkan setelah kami berhasil meraih emas di Porda Jawa Barat. Saya mendapatkan tawaran menjadi pelatih di Negara Brunei Darussalam. Namun, saya sadar diri, bahwa pribadi saya ini belum siap sampai ke tingkat itu. Karena, masih ada yang bagus dari saya. Patokannya saya lima tahun baru GO Internasional atau sebagainya.

Apakah ada yang lainnya?
Ada dan yang paling membanggakan adalah ketika atlet kami berhasil meraih perunggu di Satellite FIE Championship, Uzbekistan. Bagi saya itu kado terindah. Bukan hanya karena berhasil meraih juara di tingakt Asia Eropa. Karena, pada momen itu saya sedang merayakan ulang tahun yang ke 31 tahun. Saya sangat bersyukur banget.

Bagaimana pesan yang ingin Anda sampaikan?
Pesan yang ingin saya sampaikan kepada anak didik. Selagi muda tekuni saja. Waktu muda kalian habis karena latihan itu tidak masalah. Karena, manfaatnya bisa dirasakan setelah usia orang mencari kerja. Kuncinya, fokus menekuni olahraga ini. Saya juga mempunyai pesan terhadap para pengurus cabang olahraga anggar maupun olahraga lainnya. Bukan masalah uang yang harus di kedepankan. Tetapi, bentuk masa depan anak muda ini menjadi baik melalui olahraga. Karena, jika anda melihat hanya karena mengejar materi, sikologi anak akan terganggu dan mereka bisa rusak ke depannya. Didik lah mereka untuk menjadi atlet profesional.

Terakhir, bagaimana dengan target ke depannya?
Tentunya saya bersama atlet saat ini tengah menyiapkan diri untuk Pra PON 2019. Targetnya, bisa tembus seleksi di PON Jawa Barat. Dari empat atlet unggulan kami, syukur-syukur semuanya bisa masuk dan mewakili Kota Bogor di PON 2020 nanti. Kalau pd-nya, kita bisa masuk tiga besar di PON 2020 Papua.(yog/c/rez)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here