METROPOLITAN – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) beserta Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor kembali menggelar operasi gabungan demi menekan angka prostitusi dan penggunaan obat terlarang di Bumi Tegar Beriman. Terbukti, pada dua kali operasi yang digelar belum lama ini, 46 wanita malam diamankan petugas.

Kepala Bidang Penegak Perundang-undangan Satpol PP Kabupaten Bogor, Agus Ridhollah, mengatakan, beberapa waktu lalu pihaknya sempat menyisir indekos di kawasan Puncak, Bogor yang ditengarai sebagai salah satu lokasi yang kerap kali dijadikan sarang prostitusi. “Sebanyak 25 wanita dan lima pasangan yang bukan muhrim berhasil diamankan dalam operasi di Puncak, Bogor, beberapa waktu lalu,” tuturnya.

Sementara pada operasi kedua di tiga titik Kelurahan Nanggewer, Kecamatan Cibinong, pihaknya berhasil mengamankan 16 wanita dan dua pria untuk dimintai keterangan demi kepentingan penyelidikan lebih dalam. Dari dua operasi itu, petugas akhirnya mengamankan 46 wanita dan 7 pria. “Pada operasi pertama kami mengamankan 25 wanita dan lima pasangan bukan muhrim. Operasi kedua pada 16 wanita dan 2 pria,” terangnya.

Pria yang akrab disapa Agus Ridho itu mengatakan, penertiban tersebut merupakan bagian dari program yang digagas Bupati dan Wakil Bupati Bogor, Ade Yasin-Iwan Setiawan, bernama Nobat alias Nongol Babat. Sasaran dari tempat yang dirazia adalah lokasi yang kerap dijadikan tempat asusila. Bahkan, saat petugas meminta identitas diri, mayoritas dari mereka memiliki status pekerjaan yang tidak jelas.

“Banyak para pendatang ngontrak dan ngekos, nggak punya pekerjaan, tidak jelas aktivitasnya. Banyak juga yang bekerja di tempat hiburan malam. Kita akan melanjutkan operasi ini ke tempat kos-kosan dan kontrakan yang diduga digunakan untuk aktivitas yang bersifat asusila,” katanya.

Sementara itu, Kepala BNNK Kabupaten Bogor, Budi Nugraha, mengatakan, pihaknya akan terus bersinergi dengan sejumlah instansi terkait serta menggelar operasi serupa di beberapa wilayah yang terindikasi menjadi lokasi penyebaran barang haram tersebut di Bumi Tegar Beriman.

“Untuk menekan angka peredaran narkoba di Kabupaten Bogor, kita semua akan terus bersinergi dalam menyisir di beberapa wilayah tertentu demi menekan angka peredaran narkoba,” beber Budi saat dikonfirmasi Metropolitan, kemarin.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Seksi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Perdagangan Orang Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor, Dian Mulyadiansyah. Selain beberapa daerah yang masuk zona merah praktik prostitusi, kawasan wisata juga memiliki potensi yang tinggi terhadap praktik lokalisasi di wilayah itu sendiri. “Sekarang itu hampir di semua tempat wisata, pasti ada praktik seperti itu,” katanya.

Menurut dia, prostitusi bisa juga berpotensi terjadi di sejumlah tempat penyedia layanan dan jasa. Berdasarkan data yang ada, di Kabupaten Bogor ada 2.000 lebih para pelaku dan penyedia jasa prostitusi di hampir seluruh kecamatan di Bumi Tegar Beriman.

“Prostitusi juga bisa terjadi di tempat penyediaan jasa, seperti tempat pijat, karaoke. Bahkan rata-rata usia para tuna susila merupakan usia produktif antara 20 hingga 35 tahun. Ini tentu pekerjaan rumah kita bersama, sinergitas setiap lembaga sangat diperlukan agar mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang kita harapkan,” tutupnya. (ogi/c/yok/py)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here