METROPOLITAN – Wali Kota Bogor Bima Arya akan memenuhi panggilan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Bogor pada Jumat (11/1). Pemanggilan tersebut terkait pose salam satu jari politikus PAN tersebut saat kunjung­an calon wakil presiden (cawa­pres) Ma’ruf Amin ke Kota Bogor pa­da Sa­btu (5/1).

“Insya Allah siap (akan dipanggil, red). Besok saya akan silaturahmi ke Ba­waslu jam dua siang,” ujar Bima Arya usai nonton bareng film Keluarga Cemara bersama Seko­lah Ibu di Botani Square, kemarin.

Menurut Bima, selain silaturahmi secara umum, kedatangan­nya ke lembaga pengawas pe­milu itu un­tuk menje­laskan pose satu jarinya yang me­nuai polemik. Pada prinsipnya, Bima mengaku pose satu jari itu untuk me­muliakan tamu dan tidak mengacu pada simbol-simbol politik.

“Ya terkait dengan, satu silaturahmi secara umum. Yang kedua penjelasan tentang pose satu jari itu. Besok saya akan jelaskan. Prinsipnya satu memu­liakan tamu. Tidak mengacu pada simbol-soimbol politik,” katanya.

Saat ditanya soal persiapan, Bima pun mengakui ada persiapan khusus yang akan dilakukan. Lelaki yang terpilih kembali menjadi wali kota Bogor pada pilkada 2018 itu mengaku akan lari dan push up terlebih dulu. “Ada (persiapan khusus, red). Lari, push up,” tandas Bima diiringi tawa.

Terpisah, Komisioner Bawaslu Kota Bogor Firman Wijaya membenarkan soal pemanggilan tersebut. Menurutnya, pemanggilan berkaitan dengan per­mintaan klarifikasi atas pose satu jari Bima Arya terkait dugaan pelangga­ran pemilu soal keberpihakan pejabat negara.

“Iya benar. Agendanya besok (hari ini, red). Kami tunggu dari jam sepuluh sampai jam lima. Agenda­nya permintaan klarifikasi atau permin­taan keterangan terkait Bima yang mengacungkan satu jari. Ini terkait dugaan pelanggaran pemilu keberpi­hakan pejabat negara. Makanya dikla­rifikasi dulu,” terangnya.

Sebelum Bima Arya, Bawaslu Kota Bogor juga telah memeriksa Tim Kam­panye Daerah (TKD) Jokowi-Ma’ruf untuk dimintai keterangan, kemarin. Klarifikasi dilakukan selama sekitar 1,5 jam sejak pukul 14:00-15:30 WIB.

Tak hanya itu, Bawaslu juga telah me­meriksa Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) yang hadir saat peristiwa tersebut. Mereka adalah dua orang Pan­wascam Bogor Tengah, satu orang staf Panwascam Bogor Tengah dan satu Panwaslu Kelurahan Kebonkelapa.

Selanjutnya, usai klarifikasi, Bawaslu Kota Bogor akan menetapkan kasus tersebut pada rapat pleno yang renca­nanya digelar Senin (14/1). Rapat ini memutuskan apakah informasi awal tersebut bisa menjadi temuan dugaan pelanggaran pemilu atau tidak.

“Karena kan ini statusnya dari infor­masi awal jadi temuan, bukan laporan. Tapi kami juga masih menunggu kalau ada masyarakat yang ingin melaporkan terkait peristiwa tersebut. Jadi ini ini­siatif dari pengawasan aktif pengawas pemilu,” pungkas Firman.

Sebelumnya, kehadiran Wali Kota Bogor Bima Arya di acara silaturahmi cawapres KH Ma’ruf Amin menyedot perhatian berbagai pihak. Musababnya bukan soal pengalungan sorban oleh KH Ma’ruf Amin, tetapi saat kunjungan tersebut Bima Arya sempat mengacung­kan satu jari telunjuknya. Hal itu sontak jadi sorotan. Karena dalam posisi poli­tik, partai yang menaungi Bima Arya justru mengusung paslon lain.

Aksi satu jari Bima Arya itu juga dini­lai hampir serupa seperti yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat menghadiri Konferensi Nasional (Konfernas) Partai Gerindra di Sentul, Bogor, belum lama ini. Akibatnya, Anies dilaporkan ke Bawaslu atas dugaan pelanggaran kampanye karena dinilai menguntungkan salah satu calon. (fin/c/feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here