JAKARTA – Banjir bandang melanda wilayah Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Sabtu malam (9/2/2019).

Banjir tersebut tidak lepas dari jebolnya tanggul pembatas Sungai Pasirjati.

Berikut 7 fakta banjir bandang yang terjadi di Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

  1. Terjadi di dekat perumahan

Banjir bandang diakibatkan jebolnya tanggul pembatas Sungai Pasirjati yang memiliki lebar dua meter dan melintang di di bagian depan perumahan.

Dari pantauan Tribun Jabar di lokasi kejadian, Minggu (10/2/2019), tanggul setinggi lima meter dan memiliki ketebalan satu meter itu, hancur akibat terhantam derasnya air sungai malam tadi.

  1. Menghantam 12 rumah

Berdasarkan informasi yang didapat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, banjir bandang menyapu 12 rumah di Perumahan Jati Endah Regency, dua rumah rusak berat dan 10 mengalami rusak sedang.

Selain itu, wilayah sekitar Jati Endah Regency dipenuhi lumpur dan material lainnya, dampak dari banjir bandang.

  1. Korban meninggal

Tidak hanya kerugian material, beberapa warga juga kehilangan nyawa akibat banjir bandang tersebut.

Warga yang terdampak banjir bandang dari dua kepala keluarga (KK), yakni sebanyak enam orang jiwa, tiga orang meninggal dunia, satu orang luka berat, dan dua orang luka ringan.

Korban meninggal dunia, Firdasari (35), Hani Nurwijayani (25), dan Rauvan (1). Sedangkan korban luka, Kiki (12), Nisa (14), dan Ajay (45).

  1. Penyebab

Kabid Mitigasi Gerakan tanah PVMBG, Agus Budianto, mengatakan, curah hujan dalam hari terbilang cukup tinggi dan di kawasan hulu sungai, wilayah tangkapan airnya mengalami kerusakan.

“Tidak mampu menahan, sehingga kirmir yang berada di sisi sungai hancur dan air terhempaskan hingga ke permukiman warga,” kata Budi di lokasi kejadian banjir bandang, Minggu (10/2/2019).

Lebar sungai yang berada di sekitar perumahan tersebut pun, kata Budi, cenderung lebih kecil karena terjadinya penyempitan akibat pembuatan kirmir tidak sesuai oleh pihak pengembang.

Budi menambahkan, bentuk kirmir atau tanggul di pinggir sungai tersebut menyerupai tembok tegak, justru seharusnya, kirmir sungai harus berbentuk segitiga.

“Kalau bentuk kaya gini, ketika hancur materialnya menutup aliran sungai, sehingga terjadinya banjir bandang seperti kemarin. Sedangkan kalau segitiga bila hancur akan ke arah luar sungai, sehingga laju air masih berjalan,” katanya.

  1. Akibat pola tanam di Kawasan BandungUtara

Bupati Bandung, Dadang M Naser, menyebtu penyebab banjir bandang adalah praktik pola tanam yang tidak benar di Kawasan Bandung Utara.

“Sedang musim tanam, tapi tidak membuat sengkedan, sehingga di atas tidak ada daya tampung jadi meluncur,” kata Dadang saat ditemui di lokasi kejadian banjir bandang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Minggu (10/2/2019).

Ia mengatakan, berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Bandung, wilayah hulu atau KBU, 80 persennya adalah zona hijau, sedangkan 20 persen untuk bangunan.
Sedangkan untuk RTRW wilayah Kecamatan Cilengkrang atau sekitar lokasi banjir bandang, 60 persen bangunan, sedangkan 40 persen ruang terbuka hijau

  1. Tim Gabungan Masih Bersihkan Lumpur

Setelah banjir bandang, jalan sekitar Jati Endah Regency, dipenuhi lumpur, sehingga tim gabungan membantu warga membersihkan lumpur dan material lainnya.

2019).

  1. Lumpur masuk ke dalam rumah

Lumpur dan material lainnya tidak hanya tersebar di sekitar jalan perumahan tersebut.

Beberapa warga mengaku lumpur dan material lainnya masuk ke dalam rumah mereka.

Satu di antara warga yang tengah membersihkan kediamannya, Martono (25), mengatakan bahwa ia bersama keluarganya sedang membersihkan bagian dalam dan perkarangan rumah mereka.

Di rumahnya, kata Martono, berserakan lumpur, bebatuan, hingga kayu-kayu yang menumpuk.

“Dari pagi jam tujuh sampai sekarang sama-sama dengan keluarga membersihkan rumah,” ujar Martono.

Sumber: Tribunbogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here