METROPOLITAN – Bogor yang terdiri dari kota dan kabupaten nyatanya punya kepercayaan berbeda pada partai politik (parpol) yang jadi peserta pemilu 17 April nanti. Realita itu tercermin dari hasil simulasi pencoblosan pileg DPR RI yang telah digelar Harian Metropolitan pada 31 Januari 2019. Jika di Kota Bogor masyarakatnya lebih banyak memilih PDIP, beda halnya di Kabupaten Bogor. Partai Gerindra besutan Prabowo Subianto itu yang justru berkuasa.

Berdasarkan hasil peng­hitungan simulasi pencoblosan surat suara pileg DPR RI 2019, PDIP memperoleh suara terbanyak di Kota Bogor. Dari total 1.330 surat suara yang disebar di Kota Bogor, PDIP meraih suara tertinggi dengan total 272 suara atau 20,45 persen. Sementara di urutan kedua, Par­tai Keadilan Sejahtera (PKS) mem­peroleh 264 suara atau 19,84 per­sen. Kemudian disusul Gerindra dengan perolehan 247 suara atau 12,26 persen.

Sedangkan Partai Demokrat menempati posisi keempat dengan jumlah suara 122 atau 9,17 persen lalu dikejar Golkar dengan 121 suara atau 9,09 persen. Jumlah surat suara sah di simulasi pen­coblosan pileg DPR RI di Kota Bogor yakni 1.317 suara dan surat suara tidak sah berjumlah 13.

Kondisi itu juga tak jauh beda di Daerah Pemilihan (Dapil) III Jawa Barat (Jabar) mencakup Kota Bo­gor dan Cianjur. Dari hasil simu­lasi, PDIP juga menempati pering­kat pertama dengan perolehan 389 suara atau 20,15 persen. Ke­mudian disusul Partai Gerindra dengan 379 suara atau 19,64 per­sen. Sementara PKS bertengger di peringkat ketiga dengan total 295 suara atau 15,28 persen dan Golkar 231 suara atau 11,97 persen.

Sementara itu, partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono be­rada di urutan kelima dengan perolehan 179 suara atau 9,27 persen. Perolehan tersebut se­suai jumlah 1.930 surat suara, di mana sebanyak 1.868 dinyatakan sah dan sisanya 62 suara tidak sah.

Ketua DPC PDIP Kota Bogor Dadang Danubrata meyakini pe­ningkatan suara partai besutan Megawati Soekarno Putri di Kota Bogor merupakan kerja keras seluruh elemen partai. Selain itu, dirinya yakin perjuangan PDIP kepada wong cilik di Kota Bogor dirasakan langsung masyarakat sehingga ikut berpengaruh pada suara partai.

“Ini kerja keras yang sudah di­instruksikan melalui advokasi di masyarakat, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan dan lainnya. Jadi kami tidak hanya bergerak ketika pemilu saja tapi sudah jauh hari sebelumnya,” kata Dadang.

Selain itu, dirinya meyakini ma­syarakat Kota Bogor didominasi pemilih rasional. Advokasi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat pun mendapat peni­laian yang baik, termasuk komit­men anggota DPR PDIP dalam mengawal APBD yang pro rakyat.

“Kami konsisten memperjuang­kan aspirasi masyarakat. Ditambah calon-calon yang diusung PDIP merupakan calon pilihan. Terlebih tokoh-tokoh nasional seperti Maruar Sirait juga ikut turun. Ini menambah kekuatan PDIP di Kota Bogor,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPC Partai Gerindra Kota Bogor Sopian Ali Agam mengaku tidak terpengaruh dengan hasil survei yang ada. Ba­ginya, Partai Gerindra di Kota Bogor saat ini memuncaki suara di Kota Bogor. Pemilihan presiden (pilpres) pun ikut mendongkrak suara Partai Gerindra di Kota Hu­jan. Terbukti dengan masih ber­tenggernya Prabowo Subianto di atas pesaingnya.

“Kami memang belum survei, tapi dua bulan lalu ada survei yang menyatakan Partai Gerindra pe­rolehan suaranya paling tinggi di Kota Bogor. Kami sih tidak terlalu melihat hasil survei, yang jelas terus bergerak. Kami yakin di Kota Bogor Partai Gerindra tetap di posisi puncak,” tegas Sopian.

Saat ini, lelaki yang menjabat wakil ketua DPRD Kota Bogor itu mengungkapkan, semua kader dan caleg Partai Gerindra terus turun ke akar rumput untuk meya­kinkan masyarakat.

“Prabowo sendiri masih unggul di Kota Bogor, artinya Partai Gerindra juga seharusnya unggul dibanding partai lain,” ujarnya.

Sementara itu, hasil berbeda justru terjadi di Kabupaten Bogor yang merupakan Daerah Pemili­han (Dapil) V Jabar. Posisi PDIP justru merosot ke posisi lima besar partai dengan suara terbanyak. Berdasarkan hasil simulasi pen­coblosan, Gerindra berada di posisi teratas dengan perolehan sebanyak 451 suara atau 22,39 persen. Jumlah tersebut dua kali suara PDIP yang hanya menda­patkan 180 suara atau 8,39 persen.

Sedangkan posisi parpol yang masuk tiga besar di Kabupaten Bogor juga masih dikuasai partai pengusung Prabowo Subinato-Sandiaga Uno, yakni PKS dengan 233 suara atau 11,57 persen, disu­sul Demokrat 197 suara atau 9,78 persen dan PAN 192 suara atau 9,53 persen, mengungguli PDIP.

Adanya perbedaan partai pen­guasa di Kota dan Kabupaten Bogor itu mendapat tanggapan dari pakar politik lokal Bogor. Men­urut Pengamat Politik Universitas Djuanda Beddy Iriawan Maksudi, kemenangan PDIP di Kota Bogor tentu merupakan hal wajar. Hal itu lantaran perbedaan wilayah dan kultur antara kedua daerah tersebut. Tinggalnya Joko Widodo di Istana Bogor juga dinilai men­jadi salah satu alasan kuat ung­gulnya PDIP di Kota Hujan.

“Namanya juga beda wilayah, apalagi salah satu bos PDIP ada di Istana Bogor. Pasti ada pengaruh dan daya tarik tersendiri,” tuturnya.

Tak hanya itu, identitas PDIP sebagai salah satu partai yang lekat akan identitasnya sebagai go­longan wong cilik juga sangat serasi dengan kepribadian dan gaya kepemimpinan Jokowi.

“Di mata masyarakat, Jokowi merupakan sosok pemimpin yang sederhana, sangat pas dengan identitas partainya. Warga kan paling suka pemimpin yang mera­kyat dan pro rakyat,” paparnya.

Sebaliknya, kemenangan Gerindra di Kabupaten Bogor merupakan hasil sinergitas seluruh elemen mesin pendukung. “Kalau kabu­paten berbeda, kemenangan Gerindra lebih kepada hasil kerja sama timses, partai pengusung beserta gerakan sejumlah komu­nitas dan seluruh tim yang men­gusung Prabowo-Sandi,” ungkap­nya.

Disinggung soal kemenangan keduanya di Jabar III dan V, pria yang akrab disapa Beddy itu men­gatakan bahwa kemenangan PDIP di Jabar III dan Gerindra di Jabar V bisa disebabkan berbagai faktor. Lumbung suara dan tingginya pemilih simpatisan dinilai dapat mempengaruhi perolehan suara keduanya.

“Setiap calon pasti memiliki lumbung suara di setiap wilayah yang berbeda. Mungkin Jabar III adalah lumbung suara PDIP, be­gitupun sebaliknya. Tapi faktor dari dampak peran tim sukses beserta seluruh elemen pengusung juga berpotensi sebagai penyebab terjadi hal tersebut,” ujarnya.

Politikus PDIP, Saptariani, menga­ku rendahnya perolehan suara PDIP jadi tantangan bagi seluruh pengurus. Menurut Bendahara DPC PDIP Kabupaten Bogor, per­juangan partainya menduduki peringkat teratas cukup berat. Namun ia yakin bisa mengejar ketertinggalan suara di sisa waktu yang ada.

“Kami terus bergerak, masih ada waktu sampai April untuk meng­galang dukungan. Kalau melihat pergerakan, saya yakin PDIP bisa menjadi pemenang pemilu,” ung­kap Sapta.

Bila melihat hasil kumulatif pen­ghitungan simulasi pencoblosan pileg DPR RI 2019 Radar Bogor Grup yang digelar serentak di se­jumlah kota/kabupaten di Jabar meliputi Purwakarta, Karawang, Bandung, Cimahi, Sukabumi, Bekasi, Depok dan Cianjur, Gerindra juga masih berjaya di Tanah Sun­da.

Ada sekitar 1.640 suara atau se­kitar 22,24 persen masyarakat di Jabar yang memilih Partai Gerindra. Selanjutnya disusul PDIP dengan 1.096 suara atau sekitar 14,87 per­sen. Selanjutnya PKS dengan pe­rolehan 808 suara atau sekitar 11,09 persen. Di posisi keempat dan kelima berturut-turut Partai Gol­kar dengan 9,26 persen dan Partai Demokrat 8,90 persen. (Lihat pe­rolehan suara selengkapnya di grafis)

Politisi Partai Gerindra Adi Su­wardi meyakini partainya berada di posisi puncak. Kondisi itu ter­lihat dengan begitu antusiasnya masyarakat menerima partai be­sutan Prabowo Subianto itu saat turun menemui mereka.

“Masyarakat banyak yang mengeluh soal kondisi terkini dan mereka percaya Partai Gerindra bisa membawa perubahan. Apa­lagi semangat pilpres ini begitu kuat untuk memenangkan Pra­bowo. Kami yakin menang di Bogor,” terang Adi.

Jika menilik hasil pileg 2014, Gerindra tetap mengukuhkan diri menjadi partai penguasa di Jabar bersama PDIP dan Golkar. Hal itu dilihat dengan perolehan

kursi di DPR RI dari wilayah Jabar, di mana PDIP mendapat 18 kursi, Golkar 17 kursi dan Gerindra se­puluh kursi. Menurut Pengamat Politik Ray Rangkuti, dominasi suara Partai Gerindra dan PDIP di Jabar tak lepas dari efek dong­krakan calon presiden yang me­reka usung. Terlebih Partai Gerindra telah menancapkan cakarnya sejak awal di Jabar. Sementara PKS yang juga masuk tiga besar di Jabar, Direktur Lingkar Madani (Lima) ini menganggap Jabar memang masih menjadi salah satu basis PKS.

“Kalau untuk PDIP dan Gerindra ini ikut digerakkan dengan efek elektoral dari masing-masing ca­pres. Yang menarik itu, PKS mam­pu tetap bertahan di tiga besar di Jabar meskipun pertanyaannya kok tidak menyumbang suara pada bertahannya suara Prabowo. Karena makin ke sini ada kecen­derungan Jokowi menguat di Jabar,” kata Ray. Selain itu, kondisi ma­syarakat yang kental dengan akti­vitas kegamaan dianggap men­jadi keuntungan tersendiri bagi Partai Gerindra. Partai Gerindra yang selama ini diasumsikan se­bagai partai umat mendapat efek lonjakan suara dari isu tersebut. Sentimen agama di Jabar terbilang masih kuat. (fin/ogi/e/feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here