METROPOLITAN – Sukses di usia muda? Kenapa nggak. Ini seperti yang sudah ditorehkan Yasa Paramita Singgih. Pria kelahiran 1995 itu masuk deretan anak muda Asia yang sukses di dunia bisnis versi majalah Forbes. Kesuksesan itu berawal dari idenya mendesain kaus saat masih SMA.

Mengawali usahanya, Yasa mendapat pesanan kaus. Ia mem­buatnya dengan modal awal Rp700 ribu yang ia dapat setelah bekerja sebagai pembawa acara di beberapa acara ulang tahun pensi di sekolah-sekolah.­

Namun ketika itu, kemampuan desainnya belum cukup baik hingga Yasa pun harus kembali banyak belajar. Sampai pada 2012 saat dunia teknologi mulai ber­kembang, ia mempromosikan produknya melalui Black Berry Messanger (BBM). Yasa juga bahkan menjajakan produknya di emperan toko. Pada awalnya ia mengambil barang di pusat grosir Tanah Abang.

Pada 2014, akhirnya Yasa me­nemukan fokus usahanya. Meli­hat brand khusus pria yang jarang di pasaran. Kalaupun ada, me­miliki desain yang kurang mas­kulin sehingga membuat Yasa memutuskan fokus pada brand fesyen pria berbasis online dengan nama brand Men’s Republic.

“Sekarang saya jalanin satu brand fesyen pria namanya Men’s Republic, fokusnya pada bagian sepatu. Sekarang kita sudah jalan masuk tahun kelima. Dan tahun ini kita agak sedikit be­rubah nama company-nya men­jadi Republican,” ujar Yasa.

Di tahun ini, Yasa berencana ingin memperluas jangkauan bisnisnya. Ia ingin memasuki pasar produk fesyen wanita. Perjalanan Yasa hingga sampai di titik ini tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, semua membutuhkan proses dan usaha yang maksimal.

Yasa mengaku bahwa dirinya sudah memiliki minal di dunia wirausaha semenjak berkuliah di Binus University Jakarta. Namun, Men’s Republic buk­anlah bisnis yang pertama ia bangun. Yasa telah mengalami masa gagal sejak kuliah, dan ia terus belajar dari kegagalan ter­sebut bagaimana caranya membangun sebuah bisnis yang baik dan sustainable.

“Tapi (bisnis, red) yang sekarang ini adalah bukan yang pertama, setelah tiga, empat kali jatuh bangun, gagal, coba lagi, coba lagi. Kenapa terjun ke sini? Ka­rena sudah coba berbagai bisnis sebelumnya, sudah sempat masuk dulu masuk ke fesyen, terus sampai jualan rumah. Te­rus jualan kuliner dan terus mencoba sepatu dan ternyata sepatu ini yang hasilnya paling lumayan,” ungkapnya. (feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here