Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kedua kiri) menyapa wartawan saat menunggang kuda di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Senin (31/10). Pertemuan tersebut dalam rangka silaturahmi sekaligus membahas masalah bangsa, politik dan ekonomi. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/aww/16.

METROPOLITAN – Hari H pemungutan suara tinggal dua bulan lagi. Harian Metropolitan pun telah menggelar simulasi pencoblosan pilpres 2019 pada 31 Januari 2019 lalu. Hasilnya, calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno masih berjaya di Kota/Kabupaten Bogor seperti empat tahun silam. Sedangkan sang petahana, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, tertinggal jauh.

Harian Metropolitan ber­sama Radar Bogor Grup meng­gelar simulasi pencoblosan se­rentak pada 31 Januari dan 4 Februari 2019. Untuk wilayah Bogor sedikitnya ada 3.550 re­sponden yang dilibatkan dalam simulasi pemungutan suara.

Dalam simulasi itu, Harian Metropolitan membagi dalam 17 tim untuk menjangkau wi­layah yang mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) Kota/Kabu­paten Bogor.

Berdasarkan hasil penghitung­an 3.550 surat suara, calon pre­siden dan wakil presiden Pra­bowo Subianto dan Sandiaga Uno unggul di Tanah Pajajaran.

Pasangan Prabowo-Sandiaga diprediksi bakal kembali men­gulang kejayaannya seperti pil­pres 2014. Dari hasil simulasi pencoblosan Harian Metropo­litan, pasangan nomor urut dua itu memperoleh 2.215 suara, lebih tinggi dibanding pasangan Jokowi-Ma’ruf yang hanya mem­peroleh 1.231 suara.

Bila dipersentasekan, pasangan Prabowo-Sandi mampu menge­ruk suara 64,28% di wilayah Bo­gor. Sadangkan pasangan Joko­wi-Ma’ruf hanya meraup suara 35,72%.

Hasil itu pun sama dengan pe­rolehan pada pilpres 2014. Di Kota Bogor, Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Hatta Radjasa memperoleh suara sah sebesar 340.286 atau 61,77%. Sedangkan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mendapatkan suara 210.578 atau 38,23%.

Di Kabupaten Bogor, Prabowo-Hatta memperoleh 1.636.134 suara atau 63.73% dan Jokowi-JK meraih 852.888 suara atau 34.27%. Tak hanya di Kota/Kabupaten Bogor. Simulasi pencoblosan itu juga dilakukan di beberapa kota dan kabupaten di Tanah Sunda. Di antaranya Purwakarta, Kara­wang, Bandung, Cimahi, Suka­bumi, Bekasi, Depok dan Cianjur.

Dari hasil simulasi tersebut, diperoleh hasil yang tak jauh beda. Di mana Prabowo-San­diaga merajai Tanah Sunda dengan perolehan suara men­capai 5.181 atau 61,64%. Sedang­kan sang petahana, Jokowi-Ma’ruf, memperoleh 38,36% atau seba­nyak 3.224 suara.

Sejumlah pengamat pun ikut memberi reaksinya atas kekala­han Jokowi sebagai petahana. Termasuk pengamat politik yang juga Direktur Democracy Elec­toral and Empowerment Part­nership (DEEP), Yusfitriadi.

Lelaki yang akrab disapa Kang Yus itu mengungkapkan, keka­lahan Jokowi sebagai petahana di Bogor maupun Tanah Sunda dipicu banyak faktor. Pertama, ia menilai bahwa selama ini Tim Kampanye Daerah (TKD) Joko­wi-Ma’ruf beserta relawannya hanya terfokus pada deklarasi dukungan. Padahal, kegiatan semacam itu dianggap sekadar seremonial sehingga belum bisa menyentuh pemilih.

“Yang tahu lingkaran itu-itu saja, tidak menyentuh akar di bawah yang sesungguhnya. Buang-buang energi mungkin tidak, tapi yang jelas tidak mem­pengaruhi elektabilitas,” jelas Kang Yus.

Berbeda dengan Prabowo, tim dan relawannya biasanya cukup ideologis karena ikut dipengaruhi sentimen agama. Ketika politik dibangun dengan sentimen ideologi, maka akan memuncul­kan kader militan.

“Ini yang terjadi pada tim Pra­bowo-Sandi yang dianggap se­bagai representasi kekuatan Islam. Ini memunculkan gerilya politik yang militan. Door to door, forum warga dan gerakan sukarela lain­nya yang terus mendorong Prabowo-Sandi,” ujarnya.

Kondisi inilah yang harus men­jadi PR bagi tim Jokowi-Ma’ruf Amin agar lebih menyentuh masyarakat secara langsung. Jokowi tidak bisa hanya mengan­dalkan mesin partai lantaran masyarakat tidak terlalu peduli dengan partai di momen pilpres 2019.

Jokowi dan tim harus meng­gunakan simpul-simpul warga. Misalnya kepala dusun atau tokoh kampung, tokoh pemuda dan forum-forum di kampung.

“Ini harus dimaksimalkan bu­kan dengan deklarasi-deklarasi seremonial. Terakhir, Jokowi harus segera berpikir menam­pilkan diri yang sebenarnya agar stigma yang diopinikan lawan politiknya akan terpatahkan dengan sendirinya,” pesan Kang Yus.

Di luar itu, Kang Yus melihat kedua pasangan dan tim belum benar-benar menyentuh kalangan swing voter, termasuk kaum mi­lenial. Untuk swing voter, Jawa Barat (Jabar) yang menjadi dae­rah di lingkaran Metropolitan memiliki banyak masyarakat urban, para pekerja dan warga kampus. Mereka belum menen­tukan pilihan sehingga harus digarap maksimal.

Kedua adalah kelompok mile­nial yang jumlahnya mencapai 30%. Kang Yus menganggap keduanya belum mampu me­nyentuh itu. Sandiaga Uno me­mang paling berpeluang masuk ke kaum milenial dengan gaya kekiniannya. Tetapi Ma’ruf juga memiliki basis pemilih di pesan­tren yang juga masuk milenial.

Begitupun Jokowi yang dekat dengan organisasi hobi dan mi­nat yang mayoritas adalah kaum milenial. Potensi-potensi itu harus dimaksimalkan tim dengan mengemas beragam kegiatan menarik. “Sampai hari ini tim kampanye keduanya belum me­nyentuh, belum punya kemasan bagaimana cara menarik sim­pati kelompok milenial agar tidak menjadi swing voter,” terangnya.

Sementara itu, pengamat po­litik Siti Zuhro menilai Jabar memang bukan basis dukungan Jokowi sejak pilpres 2014. Tren perilaku pemilih dari dulu lebih ke sosok Prabowo. Selain itu, Jabar yang kental dengan aktivi­tas keagamaan ikut mendongkrak suara Prabowo. Isu-isu yang berbau agama seperti Jokowi diusung partai dan dekat dengan sosok-sosok penista agama pada pilkada DKI lalu, menambah daftar panjang alasan Prabowo lebih masuk ke warga Jabar.

“Kulminasinya itu ada di keja­dian pilkada DKI. Ada istilah penista agama yang diasumsikan didukung partai-partai dan sosok yang dekat dengan Jokowi. Soal agama ini soal rasa, masalah keimanan, akidah. Ini kan tidak bisa dibohongi. Apalagi Jabar yang kental dengan komunitas-komunitas muslim yang luar biasa. Ini tidak bisa dipungkiri,” kata Siti.

Kondisi itu diperkuat setelah ada gerakan 411 hingga 212. Ba­hkan gerakan tersebut juga be­rimbas pada pilkada Jabar. Ter­bukti, meski tidak menang, pa­sangan usungan Prabowo yaitu Sudrajat-Ahmad Syaikhu hampir mampu menyaingi suara Ridwan Kamil.

“Jabar ini memang kental dengan sentimen agama karena banyak aktivitas yang muncul dari Jabar. Komunitas, masjid-masjid punya pengaruh. Ini yang mungkin tidak pernah terpikirkan Jokowi sejak awal. Sehingga ketika dia harus maju sebagai petahana, dia juga di-review jejaknya, se­perti apa kedekatan yang sebe­narnya dengan umat,” terangnya.

(fin/c/feb/run)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here