METROPOLITAN – Muaz HD, anggota DPRD Kota Bogor periode 2009. Selama jabatannya, pria berusia 59 tahun itu memi­liki target bisa menghilangkan maksiat di Kota Hujan. Beberapa regulasi ia canangkan bersama anggota dewan lainnya. Lantas seperti apa kebijakan yang pernah dibuat ketua Bidang Polhukam dan Ekuintek DPD PKS Kota Bogor ini? Berikut wawancaranya bersama Harian Metropolitan:

Sejak kapan Anda dilantik men­jadi anggota DPRD?

Saya dilantik sejak 2009. Saya men­jabat sebagai anggota DPRD Kota Bogor dengan masa periode 2009- 2014.

Selama menjabat, Anda pernah duduk di komisi apa saja?

Hampir semua komisi. Hanya Ko­misi A DPRD Kota Bogor yang belum pernah. Saya pernah menjadi ang­gota Komisi B dan C, terus ketua Komisi B hingga sekretaris Komisi D DPRD Kota Bogor.

Lalu, perubahan seperti apa yang pernah Anda lakukan?

Ada beberapa kebijakan yang saya buat bersama rekan-rekan ang­gota dewan lainnya. Pertama, mengajukan ide melindungi ma­syarakat dari kerusakan moral. Cara yang kami lakukan dengan menggolkan peningkatan pajak Tempat Hiburan Malam (THM) hingga 75 persen. Alasannya, itu penting untuk menghambat warga Bogor pergi ke THM, khususnya dis­kotek.

Kedua, pengelolaan HIV/AIDS. Itu yang pertama mengusulkan adalah saya dan teman-teman ang­gota dewan periode 2009. Regulasi ini kita usulkan dengan tu­juan pasangan yang mau menikah wajib melakukan tes HIV/AIDS. Sebab, kasus ini banyak terjadi di Bogor dan kami ingin melindungi dan men­ciptakan keluarga sejahtera. Ya, secara tidak langsung mengurani seks bebas.

Adakah yang lainnya?

Ketiga, pajak air tanah yang kita tingkatkan tarifnya. Awalnya yang dikenakan untuk komersil seperti hotel, mal, industri dan lainnya itu tarifnya kecil. Dengan regulasi yang kita buat, setidaknya menambah PAD untuk Kota Bogor. Terakhir, kita juga mendorong pembinaan guru ngaji melalui Perda Diniyah Takmiliyah. Regulasi ini dibuat untuk memberi­kan insentif kepada mereka.

Selain itu, saya juga aktif dalam mendorong pembangunan infra­struktur wilayah, khususnya di Kecama­tan Tanahsareal. Lalu, membuka jalur Cimanggu Bha­rata Pura dan BTN serta masuk pansus rekomendasi peru­bahan moda trans­po r­tasi di Kota B o ­g o r , bus se­ko lah, pening­katan tarif parkir di lo­kasi tertentu hingga lain sebagainya.

Terakhir, apa pengalaman menarik selama Anda men­jadi anggota dewan?

Banyak suka duka yang saya alami. Pertama, sukanya pe­kerjaan ini sesuai riwayat pen­didikan terakhir saya di S2, kaitan studi wilayah. Itu saya dedikasikan untuk pembangunan di Kota Bogor. Sedangkan du­kanya lebih pada usulan pem­buatan regulasi yang tidak bisa terealisasi dengan baik.(rez/py)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here