Jalan R3 Jadi Biang Kemacetan

by -

METROPOLITAN – Jalan Regional Ring Road (R3) yang mulanya bakal dijadikan solusi pemecah masalah kemacetan di pusat kota, kini nasibnya justru terbalik. Jalan milik H Salim Abdullah yang ditutup sejak tahun lalu itu malah jadi biang kemacetan di sejumlah titik. Ini seperti yang dirasakan warga yang tempat tinggalnya tak jauh dari perempatan Jalan Parungbanteng, Katulampa, Bogor Timur.

Hampir setiap pagi dan sore, warga sekitar beserta pengguna jalan harus rela berjibaku dengan kemacetan panjang. Tak tanggung-tanggung, ratusan kendaraan hampir setiap harinya berkum­pul memadati persimpangan yang hanya memiliki lebar seki­tar kurang dari lima meter ter­sebut.

Ketua RW 16 Perumahan Muti­ara Bogor Raya, Kelurahan Ka­tulampa, Kecamatan Bogor Timur, Priono, mengaku lelah dengan kemacetan yang kerap terjadi di wilayah tinggalnya. Menurutnya, kemacetan panjang itu sudah terjadi sejak lama, bahkan sudah dimulai sejak penutupan R3 sesi pertama.

“Sudah lama banget sering ma­cet seperti ini. Bahkan dari penutu­pan awal juga sudah sering se­perti ini. Gara-gara R3 ditutup, jadi biang macet. Kendaraan yang melintas jadi pada lewat sini. Mau tidak mau kan, jalannya sempit, kendaraan banyak, akhirnya ma­cet seperti ini,” akunya.

Kemacetan terparah biasanya terjadi sekitar pukul tujuh pagi saat hendak beraktivitas dan sore hari sekitar pukul empat. Menurutnya, warga sekitar juga sempat geram bahkan sempat ada ajakan melakukan demon­strasi lantaran kemacetan terse­but. Namun ia beserta rekan RW lainnya mencoba meredam dengan beragam pengertian.

“Kalau macet total biasanya terjadi saat pagi sekitar jam tujuh sampai jam sembilan. Untuk sore hari sekitar jam empat sore hingga jelang Magrib. Warga juga sudah mulai gerah dengan keadaan ini, mau pergi ke mana-mana takut kena macet,” beber­nya.

Priono berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sesegera mungkin menyelesaikan per­masalahan R3 dengan pemilik lahan agar masyarakatnya dapat beraktivitas dengan nyaman dan tenang di pagi dan sore harinya.

“Saya mewakili warga keingi­nannya R3 harus segera dibuka dan diselesaikan. Semoga cepat ada titik temunya antara kedua belah pihak agar kemacetan tak lagi terjadi dan masyarakat dapat beraktivitas dengan lancar tanpa ada ketakutan macet di jalan,” pintanya.

Atas kondisi itu, Komisi III DPRD Kota Bogor Sendhy Pratama mengaku sempat memanggil Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor untuk menangani kemungkinan terburuk yang bakal terjadi dari dampak dit­utupnya jalur R3, seperti kema­cetan. “Kita sudah sampaikan sebelumnya kepada Dishub Kota Bogor,” katanya.

Menurutnya, kemacetan yang terjadi lantaran arus lalu lintas yang melintas jalur R3 secara masif banting setir dan mele­wati perempatan Parungbanteng, ruas jalan yang sempat tidak sebanding dengan volume ken­daraan yang melintas di daerah tersebut. “Kami sudah menyam­paikan kalau ini tidak diselesai­kan dengan segara akan terjadi permasalahan arus lalu lintas,” paparnya.

Sendhy menilai seharusnya Dishub beserta Satlantas meny­iagakan sejumlah petugasnya untuk mengatur arus lalu lintas di jalur tersebut. Sebab, jalur itu merupakan salah satu perlinta­san yang cukup dominan dilalui sejumlah kendaraan.

“Seharusnya ada petugas yang berjaga di sana. Jalur itu kan ma­suk kategori jalur hidup. Apala­gi ditambah dengan ditutupnya R3, pasti ada peningkatan vo­lume kendaraan. Apalagi penutu­pan R3 itu karena permasalahan pemkot dengan pemilik lahan, bukan karena ditutup warga,” ungkapnya.

Ia juga meminta Dishub dan lantas berjaga di lokasi kemace­tan tersebut, khususnya pada jam sibuk seperti pagi dan sore hari sesuai apa yang dirasakan warga. Karena itu, Sendhy me­minta apa yang dirasakan warga jangan sampai dibiarkan, harus ada penanganan dan tindakan dari pemerintah agar warga me­rasa nyaman dalam beraktivitas.

“Jangan sampai ada pembiaran dan jangan juga masyarakat sampai menilai sudah tidak sukses melakukan pembayaran kepada pemilik lahan, tidak sukses juga dalam mengurai kemacetan ini. Masyarakat jangan sampai di­buat resah dan dibiarkan karena kasus seperti ini,” imbuhnya.

Sendhy berpesan jika memang ada warga yang merasa tergang­gu akan kemacetan tersebut, pihaknya siap menerima dan menampung segala keluhan. “Kalau ada warga yang merasa terganggu dan keberatan karena hal ini, kami dari Komisi III siap menampungnya. Buat saja su­ratnya secara resmi, kami pasti terima kok,” pesannya.

Untuk diketahui, Jalur R3 saat ini tengah ditutup Pemkot Bogor. Penutupan itu dikarenakan pem­kot tengah menaati putusan pengadilan yang telah disepa­kati. Di mana dalam putusan tersebut pemkot sebagai tergugat yang kalah harus menutup Jalur R3 karena tidak bisa membayar ganti rugi ke pemilik lahan, Siti Khodijah, seluas 1.987 meter persegi.

Pada akhir Januari lalu, Ke­pala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (DPUPR) Kota Bogor Chusnul Rozaqi mengaku pihaknya ingin segera menuntaskan pembebasan lahan Jalan R3, setelah konsultan appraisal merampungkan tugas­nya. “Appraisalnya sudah ada hasil. Soal kapan pembayarannya, ya nanti setelah musyawarah dengan pemilik lahan yang akan difasilitasi Bagian Hukum Setda Kota Bogor,” ungkap Chusnul.

Chusnul juga menjelaskan ba­hwa anggaran sebesar Rp14 miliar lebih yang disiapkan Pem­kot Bogor sudah termasuk dana kompensasi yang diminta pemi­lik lahan.

“Jadi anggaran Rp14 miliar sudah termasuk dana kompen­sasi. Sejauh ini Pemkot Bogor juga telah melakukan komuni­kasi dengan pemilik lahan se­putar pembayaran tanah ter­sebut melalui Pak Sekda. Mudah-mudahan nanti saat musyawa­rah tidak ada kendala apa pun. Saya yakin pemkot dan pemilik tanah sama-sama punya niat baik,” ujarnya. Namun, hingga kini belum ada kejelasan. (ogi/c/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *