METROPOLITAN – Desakan kepada penegak hukum untuk memeriksa dugaan kejanggalan proyek rehabilitasi Masjid Bai­tul Faizin terus bergulir. Namun, Inspektorat harus menunggu proyek yang tengah memasuki waktu perpanjangan itu rampung sebelum melakukan audit.

Di balik kisruh soal kekece­waan bangunan baru masjid, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitul Faizin ingin ma­sjid di pusat pemerintahan Ka­bupaten Bogor itu lekas selesai. Meskipun kini bisa dipakai se­mentara, rupanya kenyamanan beribadah di ruangan semen­tara masih jauh dari harapan.

“Saat ini yang dipakai semen­tara (salat berjamaah) itu nanti­nya untuk aula pertemuan kajian. Memang ketinggian ruangannya pendek ya jadi agak panas. Nanti salat di ruang utama tengah sampai sekarang juga belum bisa,” kata Sekretaris DKM Baitul Faizin Haji Ahmad Markalau sudah beres, tapi kan zuki, kepada Metropolitan.­

Selain itu, sambung dia, ru­angan untuk kantor DKM juga belum jelas penempatan­nya. Sehingga saat ini menem­pati ruangan sementara dekat dengan ruang sementara un­tuk salat berjamaah. Pihaknya hanya menekankan para pe­mangku kebijakan untuk se­gera merampungkan bangu­nan. Apalagi, proses yang kini berjalan pun sebetulnya sudah lewat dari masa kontrak.

“Teknis pembangunan ya di dinas terkait, kami kan peng­guna saja. Intinya lebih cepat selesai ya lebih baik, tidak hanya sementara. Apalagi banyak yang ngeluh pengap karena terlalu pendek ruangan­nya. Tapi ya kami tidak bisa apa-apa, itu bukan ranah DKM,” paparnya.

Sejak pertama kali kembali digunakan per 25 Desember tahun lalu, memang warga sudah banyak yang kembali beribadah di Masjid Baitul Faizin. Mulai dari salat ber­jamaah hingga pengajian atau kultum. ”Sudah mulai jalan, seminggu dua kali,” ujarnya.

Soal kapasitas, pihaknya mem­perkirakan ada penambahan jumlah sebesar 30 persen. Jika pada bangunan sebelumnya bisa menampung jamaah se­banyak 1.500 orang, nantinya diperkirakan 2.500 orang bisa salat berjamaah di sana. “Pembangunan lagi jalan. DKM sih lebih cepat lebih baik. Mu­dah-mudahan selesai, ber­fungsi, jamaah tetap ke sini. Apalagi sudah ada edaran im­bauan dari bupati untuk salat berjamaah bagi PNS di ling­kungan pemkab ini,” tegasnya.

Sebelumnya, berbagai pihak mendesak para penegak hukum, untuk segera melakukan pe­meriksaan pada proyek Masjid Baitul Faizin. Namun beberapa minggu sejak terkuaknya ke­kecewaan bupati hingga ang­gota dewan soal buruknya hasil renovasi, penegak hukum belum juga masuk untuk mela­kukan audit.

Ogah disebut lamban, In­spektorat Kabupaten Bogor buru-buru menampik dugaan tersebut. Kepala Inspektorat Kabupaten Bogor Benny De­lyuzar mengatakan, pihaknya belum melakukan audit ter­hadap proyek yang memakan uang rakyat sebanyak Rp26 miliar itu, karena pekerjaan hingga kini belum selesai. Apalagi, proyek dibawah tang­gung jawab Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) itu kini masih mema­suki masa perpanjangan 50 hari, setelah lewat dari masa kontrak yang ditentukan.

“Jadi itu kan belum selesai, sedang dilakukan perpan­jangan dari PUPR. Nah kami lihat dulu, sampai kapan ini perpanjangannya (selesai). Intinya menunggu selesai dulu, kan bahan (audit) –nya juga belum ada,” kata Benny. (ryn/b/yook)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here