METROPOLITAN –  “Uuuuh bau nih…” Mungkin kalimat ini yang akan dilontarkan saat menyusuri pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Ciliwung di Kota Hujan. Ada sekitar 14 kelurahan yang dilintasi kali pembuat banjir DKI itu. Jalanan sempit dan berliku berukuran 1×1 meter itu menemani wartawan koran ini saat menjelajah bantaran sungai tersebut.

Benda putih nan mulus berbentuk silinder yang akrab disapa paralon nampak begitu familiar di sepanjang bantaran sungai. Ya, ini memang sudah menjadi pemandangan lazim masyarakat bantaran sungai. Semua itu lantaran penduduk tidak memi­liki septic tank dan harus membuang kotorannya ke sungai. Bukan cuma kotoran manusia, limbah rumah tangga pun dibuang ke sungai ini.

Pemerintah di bawah nakhoda Bima Arya sejak 4 Februari lalu telah menugaskan Satuan Tugas (Satgas) Kancra melakukan normalisasi Sungai Ciliwung. Pelantikannya pun unik. Ada sekitar 37 petugas disumpah di bawah jembatan Sempur, tepatnya di bantaran Sungai Ciliwung, berikrar menorma­lisasi sungai.

Tak hanya sampah yang ke­rap menjadi masalah. Pemerin­tah Kota Bogor juga dihadap­kan pada perilaku hidup bersih masyarakatnya. Semua ini bisa terlihat dari ribuan masyarakat di 14 kelurahan yang tidak memiliki septic tank. Alhasil, Sungai Ciliwung terindikasi mengandung lim­bah e-Coli dari kotoran ma­syarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, Ade Nugraha, mengatakan, pemu­kiman di bantaran sungai seharusnya ditata, dengan mencontoh pola yang dite­rapkan Pemerintah Kota (Pem­kot) Surabaya. Di mana setiap rumah di pinggir sungai wajib menghadap area tersebut. Akibatnya, masyarakat akan membuat septic tank dari­pada harus membuang limbah ke kali. “Kalau tinja dibuang ke sungai, kemungkinan ada bakteri e-Coli di sana,” katanya.

Berdasarkan rapat koordi­nasi dengan wali kota dan Dinas Pekerjaan Umum Pena­taan Ruang (PUPR) Kota Bo­gor, pemerintah akan mem­buat septic tank komunal di beberapa titik pemukiman di pinggir sungai. ”Ada 81 titik tumpukan sampah. Di mana setiap titik ada 1 kubik sampah per hari. Makanya dibentuk Satgas Ciliwung yang setiap hari memantau agar tidak ada warga yang membuang sam­pah ke sungai,” jelasnya.

Sementara untuk memasti­kan kadar pencemaran di sungai tersebut, DLH melalui Bidang Pengendalian dan Pencemaran Air Udara dan Lahan telah mengambil sam­pel air Ciliwung pada tiga titik. Yakni, Katulampa, Sem­pur dan Kedunghalang.

“Kami sedang melakukan uji laboratorium untuk mengetahui kadar pence­maran di sungai itu. Diper­kirakan hasilnya baru bisa diketahui bulan depan,” ujar staf Bidang Pengendalian dan Pencemaran Air Udara dan Lahan, Etty. Menurut Etty, keberadaan bakteri e-Coli di Ciliwung bisa saja tumbuh subur lantaran rumah di ka­wasan tersebut tak memi­liki septic tank dan membu­ang limbah langsung ke sungai. ”Karena itu, kami uji laboratorium airnya secara nonorganik, organik, kimia, fisika dan mikrobiologi un­tuk mengetahui apakah ada bakteri e-Coli di Sungai Ci­liwung,” katanya.

Berdasarkan data yang di­miliki Komunitas Peduli Ci­liwung, ada beberapa kelura­han yang warganya diketahui tidak memiliki tangki septik tank. Di Kelurahan Sindan­grasa, 183 keluarga diketahui tidak memiliki saluran pem­buangan tinja. Kondisi seru­pa terjadi di Kelurahan Katu­lampa (360 keluarga), Kelu­rahan Tajur (257 keluarga), Kelurahan Baranangsiang (514 keluarga), Kelurahan Suka­sari (663 keluarga), Kelurahan Babakanpasar (663 keluarga), Kelurahan Sempur (828 kelu­arga), Kelurahan Bantarjati (803 keluarga), Kelurahan Tanahsareal (113 keluarga), Cibuluh (918 keluarga), Ke­lurahan Kedungbadak (188 keluarga), Kelurahan Kedung­halang (157 keluarga) dan Kelurahan Sukaresmi (5 kelu­arga). (ads/d/yok/py)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here