METROPOLITAN –  Pemilihan presiden memang sudah men­ghitung hari. Segala sesuatu menjadi hal sensitif, tak terkecuali ajang  kampanye hitam yang dilakukan oleh para pendung calon pre­siden (capres) yang kerap ter­sangkut hukum. Seperti emak-emak di Karawang yang mene­bar hoaks dan berujung dengan aparat penegah hukum.

Istilah emak yang berasal dari kata ”ibu” dalam dialek Betawi Jakarta, mengacu pada perem­puan kelas menengah tangguh, ulet, dan keras kepala dalam melakukan apa yang mereka yakini benar. Dalam beberapa tahun terakhir, emak-emak men­jadi fenomena budaya dan sub­jek berbagai meme media so­sial dan video viral. Berkat peran kecil mereka yang semakin pen­ting dalam kampanye akar rum­put, partisipasi perempuan ber­hasil menjelma sebagai tema penting dalam Pemilu 2019.

Tiga ibu tersebut ditangkap Polres Karawang pada Febru­ari 2019. Mereka diduga me­nuduh salah satu pasangan calon. Menurutnya jika pasangan calon tersebut menang dalam Pilpres 2019, maka tidak akan ada adzan dan perkawinan se­jenis akan menjadi legal. Be­gitu juga dengan seorang ibu di Sulawesi yang menandangi rumah tetangganya, ia berce­rita jika pasangan nomor urut 01 menang maka mata pelaja­ran agama islam dan akan di­hapuskan. Video-video tersebut mendadak viral dan menjadi perbincangan banyak orang.

Dalam kontestasi pemilu ini, tim pemenangan capres nomor urut 01 dan 02 kerap menggan­deng emak-emak menjadi ujung tombang kampanye. Hal itu terbukti dari beberapa video yang viral tentang hoks yang disebarkannya. Terlebih posisi cukup strategis karena berada ditengah masyarakat, apalagi seorang ibu yang ada diperkam­pungan yang mempunyai emo­sional kedekatan dengan tetan­gga lainnya.

Kehadiran ibu memang diang­gap berpengaruh dalam pero­lehan suara saat pemilahan, karena para ibu tersebut dapat menggiring opini emak-emak yang lainnya khususnya yang tinggal diperkampungan. Me­skipun tidak semua ibu dapat terpengaruh dengan hoaks yang ditebar dimomen kampanye ini.

Dalam momen pemilu kali ini juru kampanye capres tidak didominasi oleh para artis-artis ibu kota. Tim pemenangan lebih memilih menggunakan tokoh masyarakat yang mempunyai basis masa yang dapat berpeng­aruh kepada perolehan suara.

Militasin emak-emak dalam menjalankan tugas, dalam mene­bar hoaks tidak perlu diragukan lagi, terbukti dengan beberapa video yang sempat viral emak-emak tersebut door to door ke rumah-rumah untuk menyam­paikan pesan yang membuat citra salah satu capres buruk.

(*)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here