Fenomena Equinox, Waspada Dehidrasi Tinggi

by -

METROPOLITAN – Beberapa hari ini publik dihebohkan dengan informasi soal fenomena equinox atau fenomena astronomi di mana matahari melintasi garis khatulistiwa dan memiliki jarak paling dekat dengan bumi, pada 22-28 Maret ini. Efeknya, negara di kawasan khatulistiwa termasuk Indonesia merasakan hawa panas yang luar biasa. Terlebih saat siang hari.

Alhasil, dunia maya pun ramai dengan peringatan soal meningginya suhu udara yang berujung potensi dehidrasi atau diistilahkan sebagai sun stroke. Saran agar lebih banyak minum air dan mengurangi aktivitas di luar rumah pun ramai dibagikan di berbagai grup media sosial (medsos).

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor dr Agus Fauzi mengatakan, tidak ada imbauan khusus kepada masyarakat menghadapi fenomena equinox itu. Hanya saja menghadapi kondisi ekstrem teresebut memang perlu disikapi dengan banyak minum air putih, konsumsi buah dan sayuran. Meskipun pola konsumsi yang sehat mestinya tidak hanya dilakukan saat cuaca ekstrem saja. “Harusnya konsumsi itu setiap hari,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Ia mengaku tidak terlalu paham soal fenomena equinox yang diinformasikan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Hanya saja jika melihat keterangan yang diberikan BMKG, semestinya fenomena equinox tidak perlu dibuat kekhawatiran berlebih. Terpenting tetap menjaga kesehatan, perilaku sehat, diet sehat bergizi dan kesehatan lingkungan.

“Istilahnya juga harusnya heat stroke, karena tidak ada istilah sun stroke. Heat stroke merupakan kondisi suhu tubuh yang meningkat tajam dan tiba-tiba dalam waktu cepat. Tetapi tubuh tidak mampu atau tidak memiliki cukup waktu untuk mendinginkan diri. Akibatnya terjadi kepanasan hebat. Tak hanya dari luar tubuh tapi juga dari dalam,” jelasnya.

Heat stroke, sambung Agus, biasanya terjadi saat seseorang menerima paparan suhu panas dari lingkungan sekitar di luar batas toleransi tubuhnya. Misal saat cuaca sedang terik luar biasa. Heat stroke juga dapat dipicu kelelahan akibat aktivitas fisik dengan intensitas tinggi yang dapat menaikkan suhu tubuh seperti olahraga di siang hari dalam waktu lama.

“Tanda dan gejalanya termasuk demam tinggi 40º celcius atau lebih, berkeringat deras, sakit kepala, kepala kleyengan, berkunang-kunang, pusing, kulit memerah dan mengering, tingkat respons yang melambat, jantung berdebar kencang; lonjakan denyut nadi mendadak. Perubahan perilaku orang kena ini biasanya seperti kebingungan, linglung, mudah marah dan gelisah. Mual muntah, napas cepat, kejang, hingga pingsan sebagai tanda pertama pada orang dewasa lanjut,” terang Agus.

Sementara itu, Bagian Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Dramaga Kabupaten Bogor, Hadi Saputra, menanggapi beredarnya kabar fenomena equinox menyebabkan peningkatan suhu ekstrem, berakibat sun stroke dan dehidrasi, perlu diluruskan.

Equinox salah satu fenomena astronomi di mana matahari melintasi garis khatulistiwa dan secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun. Yaitu puncaknya pada 21 Maret dan 23 September. Selama berlangsung, matahari dengan bumi memiliki jarak paling dekat. Konsekuensinya wilayah tropis sekitar ekuator akan mendapatkan penyinaran matahari maksimum.

Namun begitu, fenomena tersebut tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis maupun ekstrem. “Secara umum, diketahui rata-rata suhu maksimum di wilayah Indonesia berada dalam kisaran 32-36 derajat celcius,” ucapnya.

Berdasakan pengamatan BMKG, suhu maksimum tertinggi tercatat pada 23 Maret lalu, dengan suhu 37,6 derajat celcius di Meulaboh, Aceh. Di Bogor sendiri tercatat hanya sampai 36 derajat celcius.

“Jadi bukan fenomena seperti gelombang panas atau heat wave yang terjadi di Eropa, Afrika dan Amerika, yang merupakan kejadian peningkatan suhu udara ekstrem di luar kebiasaan dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama,” papar Hadi.

Ia pun mengimbau masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan dampak dari equinox, sebagaimana disebutkan dalam isu yang berkembang. Sebab, secara umum kondisi cuaca di wilayah Indonesia cenderung masih lembap atau basah. “Beberapa wilayah Indonesia saat ini sedang memasuki masa transisi atau pancaroba. Maka ada baiknya masyarakat tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan,” tuntasnya. (ryn/c/feb/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *