METROPOLITAN – Aku mencintai dia, dia mencintai aku. Tapi hubungan ini sulit dipersatukan. Sekarang dia sudah menjadi suami orang lain tapi kami tetap saling berhubungan dan mencintai. Aku tak tahu harus bagaimana, sampai kapan begini dan harus apa?

Aku, menjalin cinta yang tidak akan pernah bisa kulupakan dengan kekasihku, Bara. Kami bertemu di tempat kerja yang sama. Perkenalannya hanya sebentar tapi cinta begitu saja.

Aku sering ke kost-nya sepulang kerja. hubungan kami jadi terlampau jauh. Aku pun semakin mencintainya. Dia pun semakin sering menjaga dan memperhatikanku. Setiap hari kami selalu bersama entah hanya sekedar makan, atau mengantarku pulang. Begitu indah rasanya bersama dengannya.

Suatu hari seorang teman dari Belanda datang kembali ke Jakarta dan ingin sekali menemuiku. Aku ceritakan pada Bara tentang pertemanan kami dan permasalahan yang pernah hadir di antara aku dan dia.

Bara, meyakini dirinya bahwa aku pernah mencintainya. Maksudku untuk jujur dan terbuka berujung pada pertengkaran hebat yang tidak bisa kuterima.

Aku dengan pendapatku, bahwa berteman bisa dengan siapa saja dan tidak mungkin bagiku tiba-tiba menjauh dari teman lamaku ini. Sementara dia tidak bisa menerima pendapatku.

Dan kami juga memiliki perbedaan agama dan suku tidak mungkin kami bisa menikah, sehingga semakin menguatkanku untuk meninggalkan dia. Sungguh saat itu sedih sekali.

Tidak kusangka ia pun sedih sekali. Menangis ia di depanku. Hatiku sungguh berat, aku membatalkan janjiku dengan teman Belandaku. Aku menghubungi Bara untuk meminta maaf dan mengatakan tidak jadi menemui temanku itu.

Dalam beberapa hari, temanku kembali menghubungiku, memintaku untuk menemuinya walau hanya sebentar. Aku sungguh bingung saat itu. (cer) (Bersambung)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here