METROPOLITAN – Keripik memang jadi salah satu favorit camilan orang Indonesia. Ini pula yang membuat Arief Joko terjun ke dunia usaha keripik. Dari tangan kreatifnya ini, ia melahirkan keripik pepaya Gandoel Mercon. Bisnis ini menghasilkan omzet hingga belasan juta setiap bulannya.

Ia merantau. Ratusan kali ia melamar kerja, tak satu pun ada yang diterima. Padahal ia seo­rang sarjana.

Kebetulan, orang tua Arief memiliki kebun pepaya yang luas. Daripada melamar ke sana ke mari tak karuan dengan hasil nihil, Arief bereks­perimen dengan hasil kebun pepaya milik orang tua.”Kurang lebih tiga bulan lamanya saya ber­pikir dan bereksperimen untuk jadi apa nih pepaya, sampai akhirnya tercipta lah olahan keripik dari pepaya. Pertama saya membuat keripik hanya rasa pedas mercon,” ujar Arief.

Modal yang dirogoh Arief saat memulai sen­diri tak besar, hanya sekitar Rp1,5 juta. Saat itu, Arief baru menawarkan produk jualannya ke lingkungan terdekat. Mulai dari keluarga hingga tetangga. Ternyata produk milik Arief mendapat respons positif.

”Karena untuk keripik pepaya memang masih asing, bahkan belum pernah ada di masyarakat. Berawal dari situ saya mencoba untuk mema­sarkannya,” katanya. Arief mengaku senang produknya bisa disukai orang-orang. Padahal saat itu dalam satu minggu ia hanya bisa men­jual dua bungkus ke lingkungannya. Dari situ, ia mulai gencar memasarkannya lewat media sosial.

Perlahan tapi pasti, produk milik Arief mulai digandrungi banyak orang. Arief yang jadi op­timis pun kemudian mencoba peruntungan untuk ikut ajang kompetisi usaha di Indonesia. Hingga akhirnya dia masuk 20 besar dari 7.500 peserta yang ikut.

Walau belum begitu lama menjalani bisnis keripik pepaya ini, sekarang Arief sudah bisa mengantongi omzet rata-rata hingga 15 juta setiap bulannya hanya dari kemitraan, belum yang lainnya. Penjualannya kini telah menem­bus pasar ekspor hingga Singapura dan Jepang.

”Untuk penjualan paling banyak dari Magelang, Jogjakarta, Semarang, Jabodetabek, Serang, Bali Sumatera, Kalimantan dan ekspor sudah ke Singapura dan Jepang. Untuk omzet masih belum pasti mas karena saya online shop, hanya saja saya membuka kemitraan dari reseller, agen dan distributor, rata-rata per bulan Rp10-15 juta,” katanya.

Tapi, semua capaiannya ini tidak dengan mu­dah ia dapatkan. Arief mengaku punya banyak keluh kesah saat menjalani bisnis ini. ”Kesulitan saya dari awal mendirikan usaha ini adalah ter­batasnya modal karena saya membangun usaha ini individu mas. Di saat saya mendapatkan orderan banyak, kendala saya di dana dan pe­ralatan saya masih manual semua, jadi untuk memenuhi orderan masih membutuhkan wak­tu yang lama,” kata Arief.”Untuk area Magelang saya melayani COD, dari beli 1 biji, 2 biji sampai 10 biji. Pernah waktu itu konsumen beli 4 biji dan jarak dari rumah saya ke konsumen lebih dr 40 km,” cerita Arief.

Untungnya, Arief bisa sabar dan tekun menja­lani semua rintangan tersebut hingga mencapai posisi saat ini. Selain keluh kesah, cerita bahagia juga kerap dijumpai Arief dalam menjalani bis­nis ini. Salah satunya saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendatangi booth-nya dalam ajang kompetisi usaha pada 2018.(de/feb/py)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here