METROPOLITAN – Mengatakan jika kami bisa mengahadapi semua ini berdua. Agar aku jangan pernah meninggalkannya. Lagi, aku memilih bertahan tanpa janii pasti pernikahan.

Bodohnya. Lalu badai terakhir yang paling dahsyat datang meluluh lantakkan segala pertahanan kami. Keluarga­nya tiba tiba saja memintanya pulang dari rantau.

Mereka  juga mendesak keluargaku untuk mempersi­apkan pernikahan kami secepatnya. Tanpa pemberita­huan di awal, tanpa aba aba keluargaku terdesak begitu saja.

Di tengah kecewa pertemuan terakhir dulu, keluargaku meminta penangguhan. Hingga akhirnya kesalah pahaman menghancurkan segalanya.Kami saling berbagi kecemasan via telpon di tengah kericuhan.

Keluarganya tiba tiba saja mundur, menetang hubungan yang telah 3 tahun berjalan. Beberapa waktu, kami masih saling menguatkan.

Masih percaya jika hubungan cinta lami masih bisa diselamatkan. Hingga akhirnya ku dengar tangis putus asanya di seberang sana.

Tangis yang tak pernah ada dihidupnya semejak betanjak remaja. Dia menangis pilu menyatakan jika kami memang tak berjodoh. Aku ikut menangis perih. Seakan seluruh sandaranku dirampas secara paksa. Seolah semua impianku dihempaskan begitu saja.

Ditengah isaknya, aku masih berusaha membujuk. Mengais ngais serpihan kemungkinan jika kami masih punya harapan.

Meski aku sendiri tak yakin. Kumohon jangan lemah dulu sandaranku. Kita masih belum kalah.

Beberapa hari setelahnya… Dia benar benar menyerah untuk berjuang. Meninggalkanku dengan luka berlapis.Waktuku yang tersia sia menunggunya dan hatiku yang terkoyak karna cintanya.

Aku tertatih tatih berusaha untuk terus hidup. Perih benar benar perih. Merelakan benar menore­hkan pahit yang terus bertahan sekian la di panggak lidahku.

Sedikit sedikit aku mulai bisa menerima. Mempercayai jika ada hikmah di balik ini semua. Jika inilah jalan terbaik yang sebenar­nya kubutuhkan. Tentu Tuhan lebih tahu.

Delapan bulan setelah kami berakhir, ku temukan dia telah mendekati gadis lain. Terlihat lebih baik dariku. Dua bulan betikutnya dia kembali dari petantauan. Mereka akan menikah.

Sekarang setahun lebih dua bulan semenjak perpisahan menyakitkan itu, aku telah menatap ke depan. Tadi siang pertemuan keluargaku dengan calon suamiku.

Rencananya setelah lebaran nanti aku akan menikah. Meski trauma, sekarang aku menggenggam lebih erat masa depanku.

Aku percaya, kali ini semua kan berjalan lancar. Tolong doakan juga sahabat.. Doakan jika inilah hikmah semua yang terjadi menyakitkan dulu. Doakan aku bahagia dan rencana pernikahanku lancar. Aminn.(habis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here