Sebuah rekomendasi yang dapat mengubah sejarah. Itulah respon pertama yang lahir ketika saya merenungkannya.
Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019 melahirkan rekomendasi yang menjadi pembicaraan luas. Sidang Komisi Bathsul Masail Maudluiyyah menyatakan sebutan kafir tak tepat diberlakukan untuk warga non- Muslim hari hari ini.
Ujar Said Aqil Siraj, Ketum PBNU,  ketika Nabi Muhammad di Mekkah, kata Kafir itu untuk warga yang menyembah berhala, tidak memiliki kitab suci dan tak punya agama yang benar.
Tapi ketika Nabi ke Madinah, tak ada istilah kafir bagi warga Madinah. Padahal di sana ada tiga suku besar yang bukan Umat Nabi Muhammad. Nabi menyebut mereka non-muslim, bukan kafir.
Bagi NU, Kata kafir dihindari untuk masa kini karena konotasi buruk yang akan diakibatkan. Ia mengandung kekerasan teologis. Namun tentu saja tak ada maksud NU menghapus kata Kafir itu dari Alquran. Ini hanya penggantian istilah untuk praktek kenegaraan, di ruang publik saja.
Seketika saya teringat tiga hal. Pertama video pendek yang dipublikasi oleh Andrea Gardners: The Power of Words. Kedua, buku yang ditulis oleh Eric R Shlereth  (2013), An Ages of Infidel: The Politics of Religious Controversy in the Early United States. Ketiga, buku yang ditulis Andrew Wheatcroft (2015): Infidels: A History of The Conflict Between Christendom and Islam
Video Power of Words pesannya sangat sederhana. Digambarkan seorang pengemis buta. Ia duduk seharian di pinggiran jalan. Di depannya ada alas kertas untuk mereka yang lewat memberikan bantuan atau derma. Di samping pengemis itu ada karton bertuliskan: Saya buta. mohon dibantu.
Namun berjam-jam ia di sana. Sedikit sekali yang memberikan receh. Satu ketika lewat seorang gadis yang nampak terpelajar. Ia berhenti agak lama di depan pengemis itu. Sang pengemis terpana. Mengapa gadis itu berhenti agak lama. Ia sentuh sepatu gadis itu untuk mengenali. Ia dengar tapi tak tahu, gadis itu mengubah tulisan di karton. Lalu gadis itu pergi.
Tak lama kemudian, mereka yang lalu lalang memberikan reaksi yang berbeda. Begitu banyak yang kini memberikan derma dan dana di hadapan pengemis. Sang pengemispun heran. Rejekinya berlimpah.
Kemudian gadis penolong itu datang lagi dan berhenti di depannya. Kembali sang pengemis menyentuh sepatu. Seketika ia tahu, ini gadis yang menyebabkan perubahan rejeki. Dengan senang sang pengemis bertanya: Apa yang sudah kamu lakukan?
Sang gadis menjawab sederhana: Saya menyatakan hal yang sama. Tapi dengan kata yang berbeda. Kamera menunjukkan karton sang pengemis itu berubah tulisan dari: “Saya buta. Mohon dibantu,” menjadi “Ini hari yang indah. Tapi saya tak bisa melihat.”
Video ditutup dengan pesan: Dengan mengubah kata, kita mengubah dunia!
Betapa kata menjadi jembatan dari ekspresi. Satu kata dapat memberikan efek yang netral saja. Dapat pula kata itu menimbulkan efek yang merendahkan, kemarahan atau diskriminasi. Atau kata itu memberikan suasana positif, menyentuh dan menggerakkan orang lain untuk mengekspresikan kasih sayang.
Itulah kekuatan kata!!
Kata Kafir dalam tradisi Islam, atau infidel dalam tradisi Kristen, atau Kofer dalam tradisi Judaisme, Hebrew, punya jejak sejarah yang panjang. Apapun arti asli dari kitab suci masing- masing, namun sejarah menunjukkan. Kata kafir itu sering menjadi pembenaran teologis bukan saja untuk menyatakan diri pihak lain lebih rendah. Ia bahkan memberikan alasan untuk diskriminasi kebijakan, bahkan alasan untuk memerangi, memusnahkan.
Dengan sendirinya kata kafir atau infidel atau kofer menjadi beda nuansanya jika berganti kata Non-Muslim, Non-Kristen, Non-Judais. Walau sama sama menyatakan yang mana yang IN dan yang mana yang OUT. Walau sama mengekspresikan “the Otherness,” mereka yang bukan kita. Kata Kafir, Infidel dan Kofer lebih bernuansa negatif. Sementara Non-Muslim, Non-Kristen, Non-Judais itu “the Otherness” yang lebih netral.
Jejak sejarah buruknya efek kata kafir dan infidel dicatat dalam sebuah buku. Eric R Shlereth (2013) menyaksikan sulitnya masa awal pertumbuhan demokrasi di Amerika Serikat. Warga di sana datang dari latar agama yang beragam. Tak hanya agama Kristen. Tapi juga agama lain. Bahkan dalam agama kristenpun banyak pula aliran yang berbeda.
Kultur yang berkembang di abad 18 itu masih didominasi oleh “otherness” yang bermusuhan. Kata infidel, atau kafir untuk kelompok “mereka yang lain” menyulitkan prinsip demokrasi.
Kata infidel itu bukan saja menyiratkan siapa yang masuk surga dan neraka, siapa yang salah dan siapa yang benar, siapa yang superior dan inferior. Masing masing penganut agama merasa “pihak lain” penghuni neraka. Masing masing agama merasa “pihak lain” perlu diselamatkan dari keyakinan yang berbeda, walau harus dengan kekerasan.
Padalah Amerika Serikat boleh disebut negara modern pertama yang mempunyai dan memilih presiden. Yang ingin dikembangkan di sana adalah konsep warga negara. Tak bisa tidak, warga negara harus memiliki perindungan hukum yang sama, hak yang sama, kewajiban yang sama. Dan sama sama menghormati pilihan bebas.
Harus pula tumbuh kultur di masyarakat menerima kesetaraan itu. Begitu banyak lobi yang dibuat, di masa awal Amerika, banyak pula resistensi, yang menolak kesetaraan itu.
Ujar yang menolak, bagaimana kok kita umat Tuhan disamakan haknya dengan mereka yang kafir? Bagaimana mungkin kesempatan sama antara calon penghuni surga dan neraka?
Namun masa sulit awal berdirinya Amerika Serikat akhirnya dilalui. Konsep kewargaan, ruang publik bersama, kesetaraan warga, semakin mengakar. Bahkan penulis ini mencatat kata infidel atau sejenis kafir itu semakin jarang digunakan.
Tak hanya di ruang publik, bahkan di ruang agama sekalipun, untuk dialog yang lebih sehat, lebih banyak pemuka agama menggunakan kata Non-Kristen saja ketimbang Infidel atau Kafir.
Buku Wheatcroft (2015) mengupas lebih jauh. Ia masuk ke dalam sejarah abad pertengahan. Betapa kata kafir, kofer, infidel turut menjadi pembenaran teologis untuk berperang. Dalam semua agama bahkan kata kafir juga diterapkan untuk kelompok agama yang sama, yang beda aliran saja.
Perang yang sudah brutal menjadi lebih berdarah. Namun seolah semua itu disucikan karena menjadi perang antara umat Tuhan melawan para orang kafir, kofer, infidel. Seolah ada misi suci dibalik pembunuhan bahkan pembataian.
Untuk tradisi Islam misalnya, terjadi perluasan aplikasi konsep kafir itu. Awalnya ia hanya digunakan untuk penyembah berhala. Tapi kristen dan Judaisme tidak dianggap kafir melainkan sesama “Peole of The Book.” Sesama orang beriman.
Sejarah berkembang. Kaum Yahudi pun mulai dikafirkan karena dianggap tak meyakini kebenaran ayat Tuhan dan Nabi Muhammad. Kristen juga dikafirkan karena mulai meyakini Trinity,  bukan Tauhid.
Lebih jauh lagi konsep kafir juga diterapkan oleh sesama Muslim, antara Muslim Sunni terhadap Syiah dan Ahamadiyah. Lebih jauh lagi, bahkan dalam kelompok Sunni, sebagian Wahabisme yang keras, juga mengkafirkan Sunni yang lain.
Apapun asal muasal arti kata kafir, infidel dan kofer sebenarnya, tapi kata itu sudah penuh jejak sejarah. Dan itu jejak sejarah yang berdarah, diskriminatif dan penuh kekerasan teologis. Jejak sejarah yang tak lagi sesuai dengan peradaban baru yang beragam, harmoni serta setara.
Dua perubahan besar yang kemudian mengubah frekwensi semakin jarang digunakannya kosa kata Infidel.
Pertama, lahirnya negara nasional dengan konsep demokrasi. Umat bergama bergabung bersama menjadi warga negara.
Untuk ruang publik, infidel, kafir dan kofer tak lagi relevan. Ia diganti oleh kata warga negara saja: Non-Muslim,  Non-Kristen, dan Non dan non lainnya. Itu label “the otherness” yang lebih setara dan sesuai dengan konsep kewarga negaraan.
Kata infidel, kafir atau kofer semakin tersingkir di bilik pribadi, di ruang komunitas agama masing masing saja.
Kedua, lahirnya hak asasi manusia. Kebebasan berkeyakinan itu dijamin. Setiap individu dihormati pilihan bebasnya untuk berevolusi bahkan pindah keyakinan.
Mereka yang pindah agama dari Kristen ke Muslim atau sebaliknya, dari Judaisme ke Kristen atau sebaliknya, atau agama Hindu, Budha, bahkan tak beragama sekalipun, itu sepenuhnya ruang pribadi. Negara tak boleh ikut campur.
Konsep kafir, infidel, koferpun akibatnya semakin tak lagi bergaung. Konsep itu semakin tersingkir ke kalangan pemeluk agama garis keras saja. Apalagi Gereja Katolik sangat maju dengan mengatakan: Bahkan ada keselamatan di luar gereja.
Kembali ke laptop. Rekomendasi NU di tahun 2019 itu agar tak lagi menggunakan kata kafir untuk Non-Muslim menemukan momentumnya. Pihak kristen akan baik pula melakukan hal yang sama. Tak lagi menggunakan kata Infidel untuk Non-Kristen.
Tentu saja ini tak berarti menghilangkan kata kafir, infidel atau kofer dari buku suci. Itu mustahil. Itu juga bukan maksud NU.
Namun penggantian istilah itu hanya untuk kepentingan bersama di ruang publik. Kata warga negara Non-Muslim, Non- Kristen, Non- Budha, Non- Hindu, dan lain lain menjadi “the Otherness” yang lebih netral.
Seperti dalam video di atas. Dengan mengubah kata (Word), pelan pelan kita akan melihanya hasilnya. Ternyata perubahan  kata dapat berujung pada perubahan dunia (World)***
Maret 2019
BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here