METROPOLITAN – Kebijakan Pemerintah dengan memberla­kukan sistem Transfer Non Tunai (TNT) mulai disoal oleh beberapa kepala sekolah di Kota Bogor. Walaupun mereka merasa takut untuk mengemukakan permasa­lahan ini, namun pada kenyataa­nya mereka memang sangat mem­persoalan kebijakan tersebut.

Salah seorang Kepala Sekolah yang enggan disebutkan namanya menyebutkan kalau kebijakan TNT cukup memberatkan ke­pala sekolah. “Karena sekolah kan operasionalnya setiap hari, sementara dengan sistem TNT kas sekolah akan terus menipis dan habis, sehingga dimungkin­kan ke depan ada sekolah yang mungkin sampai tidak terbeli gas untuk memasak air” ungkapnya.

Ia pun mengatakan kalau se­kolah terpaku pada sistem TNT, maka pihaknya bakal kerepotan untuk menyiapkan anggaran di luar kebutuhan yang sudah di­anggarkan. “Mau bagaimana, toh anggarannya harus menunggu pengesahan dari Asistensi dulu baru dana BOS itu keluar, itupun tidak bisa keluar dengan cepat” ucap Kepala sekolah yang enggan disebutkan namanya.

Di tempat terpisah, Kepala SDN Panaragan 1 Kota Bogor, Wahyu, yang juga Ketua K3S Kecamatan Bogor Tengah, menjelaskan ba­hwa sistem TNT ini justru bagus. Karena, kepala sekolah dituntut menggunakan keuangan sesuai kebutuhan yang sudah diren­canakan. Meski, pihaknya harus rela menunggu anggaran BOS yang sudah 3 bulan itu bisa di­cairkan” kata Wahyu.

“Uangnya sih sudah ada dan sudah masuk di rekening, tetapi kita kan belum bisa mencairkan anggaran itu. Kita harus menung­gu dulu hasil Tim Asistensi yang terdiri dari manager BOS, BPKAD dan Inspektorat. Setelah ada kesepakatan mungkin baru bia­sa di cairkan, dan itupun tidak bisa cair dalam waktu dekat ini” tegas Wahyu.

Ketika ditanya dari mana biaya untuk menutupi anggaran se­lama anggaran BOS belum cair, Wahyu, mengaku mengandalkan donatur pun membantu mem­berikan pinjaman.

“Nah untuk hal yang satu itu, kami terpaksa harus mencari orang orang yang mengerti dan percaya dengan kita,“ kata Wahyu. (ber/ar/feb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here