METROPOLITAN – Aliran Sungai Cimahi di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, diduga tercemar limbah kimia pabrik garmen yang beroperasi di Desa Karangtengah, Cibadak. Itu terlihat dari penampakan sungai yang berbusa dan berbau hingga menyebabkan ikan di sungai tersebut mati.

Asep Hasrul (30), warga Kecamatan Cibadak, mengaku kondisi air sungai tersebut berbusa dan berbau saat malam hari. Ia pun lantas menyelidikinya. “Airnya berbusa dan bau serta berwarna keruh. Serta kita lihat banyak ikan mati terkapar,” bebernya.

Ia menduga limbah tersebut berasal dari pabrik garmen yang lokasinya tak jauh dari sungai tersebut. Padahal air yang berbusa itu jadi andalan warga untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci pakaian dan mencuci piring.

“Di hulu sungai ada pabrik garmen. Kita menduga limbah tersebut berasal dari sana. Karena sekarang terpapar limbah, tidak ada warga yang berani menggunakannya,” ujarnya.

Hal itu pun langsung disoroti anggota DPRD Kabupaten Sukabumi. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Muhammad Jaenudin meminta pemerintah daerah menindak tegas pelaku usaha yang terindikasi melakukan pencemaran lingkungan ke Sungai Cimahi.

“Pemerintah daerah (pemda) harus tegas terhadap pelaku usaha yang terindikasi melakukan pencemaran lingkungan,” pinta Muhammad.

Politisi PDI Perjuangan itu juga meminta kasus tersebut jadi perhatian semua pihak, dari unsur pemerintah, tokoh masyarakat dan LSM pegiat lingkungan untuk sama-sama melakukan advokasi.

“Pemda harus tegas terhadap pelaku usaha yang melakukan pencemaran, baik berupa sanksi maupun teguran,” tegas pria yang akrab disapa Jay itu.

Terpisah, Personalia PT Daehan Global Karangtengah Cibadak, Haris, angkat bicara soal adanya tuduhan terkait pencemaran yang dilakukan perusahaannya. Ia membantah disebut sebagai penyebab pencemaran. Sebab meski pabriknya melakukan aktivitas pencucian bahan, kegiatan itu sudah berlangsung sejak 2011 tanpa masalah.

“Kegiatan washing (pencucian kain, red) itu sejak 2011. Kalau ikannya pada mati, itu seharusnya dari tahun 2011 itu sudah mati. Bukannya malah sekarang,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa perusahaan yang bergerak di bidang garmen itu sudah memiliki izin terkait pengelolaan limbah dan pengambilan air sungai. Sebab, pihaknya pun tidak ingin bermasalah dengan pemda ataupun pihak buyer. “Izin sih sudah ditempuh, seperti SIPA, IPAL, UKL/UPL dan Izin Limbah Organik,” akunya. (can/ade/feb/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here