METROPOLITAN – Aksi teror bom kembali men­ghantui masa pemilihan umum (pemilu) 2019. Setidaknya sudah dua kali aksi teror terjadi di saat masyarakat Indonesia tengah menyelenggarakan pesta demokrasi lima tahunan. Teranyar, aksi teror bom terjadi di Jalan KH Ahmad Dahlan, Gang Sekuntum, Kelurahan Pan­curanbambu, Kecamatan Sibolga, Sumatera Ut­ara, kemarin.

Bom diduga sengaja diledakkan keluarga ter­duga teroris saat polisi akan memeriksa rumah Husain Alkas, yang diduga men­jadi kelompok jaringan Jamaah Anshorut Tauhid (JAD) pada Selasa (12/3) siang. Dikabarkan dalam rumah tersebut masih terdapat istri Husain dan anak-anaknya. Untuk mencegah terjadinya ledakan, polisi bahkan meminta bantuan tokoh agama setempat. ”Tolong menyerahlah, ingat anakmu. Jangan kau kor­bankan anakmu. Bicara baik-baik kalau ada masalah. Ka­rena tidak ada agama yang mengajarkan hal yang seperti itu. Ayo menyerahlah,” seru Ustadz Zainun Sinaga melalui alat pengeras suara masjid.­

Namun bujukan dan negosia­si yang dilakukan polisi selama sembilan jam tak berhasil. Dari dalam rumah itu justru kem­bali terjadi ledakan pada Rabu (13/3) sekitar pukul 01:30 WIB. Kepulan asap hitam praktis me­nyelimuti udara di sekitar ke­diaman terduga teroris tersebut.

Warga sekitar yang tampak masih ramai di lokasi kejadian pun berhamburan. Bahkan dari laporan masyarakat, bebe­rapa orang sampai terjatuh saat mencoba menjauh dari rumah tersebut. Pihak kepolisian pun menyerukan agar warga mening­galkan lokasi kejadian. ”Kami minta warga untuk meninggalkan tempat ini demi keselamatan kita bersama,” ucap salah seorang personel kepolisian.

Di sisi lain, ledakan bom itu ter­jadi jelang rencana kunjungan Presiden Joko Widodo ke Sibolga untuk meresmikan Pelabuhan Sambas di kota tersebut. Namun polisi mengaku belum bisa me­mastikan apakah ledakan bom berkaitan dengan rencana kun­jungan Jokowi tersebut. ”Ini peng­embangan yang harus dilakukan karena ketika ada pengembangan dan itu tertuju kepada daerah Si­bolga, yang kita sebutkan tadi. Dan mungkin saja ini kebetulan ada rencana Presiden ke situ,” kata Kadiv Humas Mabes Polri, Mo­hammad Iqbal.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan, bom Sibolga tidak ada hubungannya dengan pemilu serentak tahun ini. Tito menyebut peristiwa itu murni terorisme. Hal itu berda­sarkan hasil pemeriksaan kepo­lisian sebelum aksi peledakan bom terjadi. ”Mereka tidak ada hubungannya dengan pemilu. Tidak ada hubungannya dengan pesta demokrasi yang akan datang,” kata Tito.

(kmp/tib/rez/run)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here