METROPOLITAN – Pil pahit kembali harus dirasakan ma­syarakat Kampung Tonggoh­kober, RT 02/02, Desa Gunungs­ari, Kecamatan Citeureup. Bukan tanpa sebab, kepahitan ini berasal dari beragam dam­pak negatif proyek Perumahan Harmoni. Perumahan yang tengah membangun 1.500 unit itu bukannya mendatangkan dampak positif, malah me­nuai ancaman dan kesengs­araan warga. Ancaman longs­oran tebing yang bisa terjadi kapan saja hingga berkurang­nya sumber mata air warga sudah dirasakan masyarakat Kampung Tonggohkober. Pa­dahal, izin perumahan yang ditempuh diduga menggunakan cara haram tanpa melibatkan warga sekitar. Bahkan, buruknya komunikasi pengembang dengan warga, membuat ma­syarakat semakin geram.

Sebelumnya, pengembang dan pemerintah desa berjanji memperhatikan nasib warga sekitar. Namun hingga kini, baik pemerintah desa dan peng­embang, terkesan menelantar­kan masyarakat tanpa alasan. Hal itu tentu semakin menam­bah penderitaan warga yang telah menjadi korban harapan palsu.

Seorang warga Kampung Tong­gohkober, RT 02/02, Desa Gunungsari, Rosyid, mengata­kan, sampai detik ini, baik pe­merintah desa, lingkungan, hingga pengembang, belum ada tindakan apa pun menge­nai nasib masyarakat sekitar. Bahkan, ia menilai jika peng­embang dan pemerintah desa seolah bungkam dan tutup mata dengan apa yang terjadi terhadap warga.

”Masih seperti ini saja, belum ada tanggapan dari semuanya dengan nasib kami. Belum ada perubahan berarti,” keluhnya.

Terpisah, Humas Lingkungan Perumahan Harmoni, Waridi, berkilah jika pihaknya bukan menutup mata, namun perlu ada pembahasan khusus di internal pengembang terkait masalah ini.

”Saya bukannya tidak mau melayani konfirmasi sampean, tapi semuanya perlu dibahas dalam rapat internal. Bukannya kami tidak mau memberikan tanggapan dan klarifikasi, tapi semua ada prosesnya,” kilahnya. (ogi/c/yok/py)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here