Cumulonimbus Hantui Warga Bogor

by -

METROPOLITAN – Memasuki masa peralihan musim seperti saat ini, cuaca kerap tak menentu. Terkadang cerah dan hujan disertai angin kencang mewarnai cuaca di Kota Hujan. Terlebih, keberadaan pohon di sejumlah titik dperlu diwaspadai.

Pohon-pohon ini bukan hanya berfungsi sebagai penyejuk lingkungan dan memperindah tampilan kota, tapi juga bisa menimbulkan malapetaka. Sebab, cuaca ekstrem bisa berujung pada tumbangnya sejumlah pohon, baik di pemukiman dan jalan raya.

Kepala Bidang Pertamanan, Penerangan Jalan Umum dan Dekorasi Kota pada Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperumkim) Kota Bogor, Agus Gunawan, menuturkan, Kota Bogor memiliki 14.000 pohon di enam kecamatan. Sejumlah pohon besar tersebar di pusat kota, pemukiman hingga di sepanjang jalan utama kota yang memiliki 68 kelurahan.

”Berdasarkan data kami, jumlah pohon di Kota Bogor ada 14.000 pohon. Itu semua tersebar di enam kecamatan,” kata Agus. Secara garis besar, pihaknya membagi tiga klasifikasi berdasarkan jenis kesehatan pohon. Pohon dengan tingkat kekeroposan rendah, sedang hingga tinggi. Itu semua sengaja diterapkan, sebagai langkah antisipasi terjadinya hal yang tak diinginkan.

“Tak hanya itu, setiap tahun kami juga mendata ratusan pohon untuk mengetahui keadaan dan kondisi pohon. Khususnya pohon di pusat kota hingga keramaian warga,” bebernya.

Menurut dia, sekitar 150 hingga 160 pohon dicek setiap tahun. Hal ini demi mengurangi pohon keropos yang bisa saja membahayakan warga sekitar atau masyarakat yang tengah beraktivitas. Secara garis besar, angka pohon dengan tingkat keropos tinggi atau merah berkurang setiap tahunnya. Berbagai cara disudah disiapkan untuk menangani ketiga status pohon tersebut.

Sementara itu, Bagian Data dan Informasi di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Dramaga Kabupaten Bogor, Hadi Saputra, mengatakan, cuaca buruk ini terjadi karena adanya awan cumulonimbus yang tumbuh di sepanjang Jawa Barat. “Penyebabnya awan cumulonimbus, makanya tidak heran belakangan ini sering terjadi hujan ekstrem di sore hari,” kata Hadi.

Tak hanya itu, cuaca buruk juga disebabkan adanya peralihan musim. Peralihan musim penghujan ke kemarau itu berpotensi terjadi. Hal ini ditandai dominasi hujan yang kerap terjadi pada siang maupun sore hari. “Selain awan cumulonimbus, faktor peralihan musim dari penghujan ke kemarau juga bisa mempengaruhi cuaca buruk,” katanya.

Disinggung soal prediksi, pria yang akrab disapa Hadi itu mengaku keadaan seperti ini bakal terus berlangsung hingga akhir April. “Selama ada awan cumulonimbus di sepanjang Jawa Barat cuaca ekstrem akan terus berlangsung. Kami memprediksi ini akan berlanjut hingga akhir April dan kemarau awal Mei,” tutupnya. (ogi/c/ yok/py)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *