METROPOLITAN – Semuanya begitu menyenangkan .Hingga akhirnya ia menikahi kekasihnya, perasaanku hancur. Aku sangat marah. Beberapa kali aku memutuskan tak ingin menemuinya lagi namun ia menahanku.

Namun ia selalu menahanku, dia bilang dia mencintaiku (okey tapi kenapa bukan aku yang kamu nikahi?) Ia memelukku erat, membuatku selalu luluh, karena aku ingat, aku pernah ditinggalkan saat aku sedang sangat mencintai orang tersebut (mantan) dan itu sangat menyakitkan.

Aku tidak mau ia merasakan sakit yang sama. Saat ini aku masih menjadi ‘kekasih gelap’nya dan entah sampai kapan. Seorang sahabat, yang beberapa bulan terakhir menjadi ‘tempat sampahku’ telah bosan menasehati hingga memakiku sebagai wanitahina-perusak-rumahtangga-orang. Sungguh aku tidak marah.

Ia benar, aku yang salah, aku tahu pandangan buruk di luar sana mengenai selingkuhan. Aku tak akan berusaha mengelaknya. Aku hanya berpikir.. saat ini yang aku punya hanya waktu. Waktu yang berharga saat bersamanya. Karena itu aku selalu menikmati saat kami berdua.

Memeluknya erat walaupun terkadang ia tidak nyaman mengingat aroma parfumnya, mengamati tiap gurat di wajahnya, menyimak setiap celotehannya. Akupun selalu berusaha selalu ada saat ia membutuhkanku. Aku baru akan berhenti saat dia memintaku meninggalkannya.

Saat ia melepaskan tanganku maka saat itu aku akan menghilang. Aku tak pernah mampu meninggalkannya. “Karena Tuan Muda (begitu aku memanggilnya)… mungkin dia adalah bahagiamu tapi ketahuilah semua kebahagiaanmu adalah bahagiaku”. (cer)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here