Oo Kaget Lihat Wajah Sang Cucu Babak Belur

by -

METROPOLITAN – Oo Sunaryo, kakek MKU (17) korban penganiayaan yang diduga dilakukan Bahar bin Smith, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan di Gedung Perpustakaan dan Arsip Kota Bandung, kemarin. Dalam kesaksiannya, Oo mengaku saat itu melihat sang cucu babak belur pada tengah malam.

Awalnya MKU mendatangi rumah Oo Sunaryo untuk meminta izin kakeknya untuk pergi ke Bali bersama teman-temannya. Setelah pamit kepada Oo, MKU langsung pulang ke rumah.

Dalam sidang tersebut, Oo Sunaryo mengaku tidak tahu persisnya kapan MKU berangkat ke Bali. Tiga hari sejak pamit ke Bali, MKU datang ke rumahnya dalam kondisi wajah ditutupi selimut. Ia datang sekitar pukul 01:00 WIB. Oo pun meminta MKU membuka selimut tersebut hingga Sunaryo melihat wajah cucunya babak belur.

”MKU datang ke rumah karena lapar. Saya lihat wajah MKU memar, mata berdarah tapi darahnya tidak menetes dan jalannya pincang dan kepala botak,” paparnya.

Meski MKU mengaku dipukuli, Oo Sunaryo tidak bertanya rinci penyebab dan siapa yang memukul cucunya tersebut. Oo juga mengaku tidak mengenal Habib Bahar bin Smith dan tiga terdakwa lainnya. Ia bercerita, selama ini MKU tinggal di rumah yang bersebelahan dengan rumahnya. Ibu MKU telah meninggal dunia, sedangkan ayahnya telah menikah lagi.

”Saya tidak mengenal mereka bertiga. Saya hadir di sini (sidang, red) karena ada masalah dengan MKU, ada yang memukuli MKU,” akunya. Selanjutnya, Oo Sunaryo meninggalkan MKU untuk bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan.

Ketua Majelis Hakim Edison Mochamad pun menyimpulkan Oo Sunaryo hanya mengetahui bahwa cucunya dipukuli tanpa tahu siapa yang memukul dan lokasi pemukulan.

Dipaksa Saling Berkelahi Aksi saksi korban CAJ dan MKU yang mengaku-ngaku sebagai Habib Bahar bin Smith di Bali, telah diketahui Bahar dan memicu amarahnya. Bahar kemudian meminta temannya, yakni terdakwa Habib Basith Iskandar dan Habib Agil Yahya, untuk menjemput CAJ ke Pondok Pesantren (Ponpes) Tajul Alawiyyin. Dalam persidangan dugaan penganiayaan dengan terdakwa Habib Bahar bin Smith, saksi korban CAJ mengaku dijemput Habib Agil karena dianggap melanggar. Korban CAJ pun lantas dibawa ke mobil. Namun dalam mobil itu, Habib Agil dan Habib Basith sempat meminta maaf kepada CAJ. “Habib Basith sempat minta maaf ke saya, saya juga (minta maaf, red),” katanya di ruang persidangan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Bandung, Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/3/).

Saksi CAJ mengaku tidak mengetahui alasan mereka meminta maaf kepadanya. “Mungkin Habib Basith nggak enak menjemput saya,” ujarnya.

Sesampainya di Ponpes Tajul Alawiyyin, CAJ mengaku dibawa masuk ke aula kecil untuk diinterogasi Bahar. CAJ ditanya soal peristiwa di Bali. Setelah itu ia kemudian dibawa ke halaman belakang ponpes. Di tempat itu lah CAJ diajak berduel oleh Bahar.

“Diajak duel sama beliau (Bahar bin Smith, red), saya nggak mau. Akhirnya terjadilah penganiayaan itu,” ucapnya. Dalam penganiayaan itu, CAJ mengaku dipukul dengan dengkul kaki kanan Bahar sebanyak tiga kali ke dada dan rambut dijambak. Namun CAJ tidak berdaya dan hanya bisa meminta maaf. Menurutnya, peristiwa itu divideokan oleh santri. “Saya hanya minta maaf saja, Habib Bahar nggak bilang apa-apa,” tuturnya.

Setelah dianiaya, CAJ lalu dibawa kembali ke aula kecil di ponpes tersebut. Saat itulah ia bertemu MKU yang baru saja datang. Mereka kemudian kembali ditanya soal peristiwa di Bali. Usai interogasi, MKU lalu dibawa ke lantai atas. Namun CAJ mengaku tak mengetahui apa yang terjadi pada temannya itu. Hanya saja ketika turun, ia melihat wajah temannya sudah berdarah-darah. (tib/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *