METROPOLITAN – Peristiwa tewasnya Mayang (18) di perlintasan tanpa palang pintu commuter line Jakarta-Bogor, tepatnya di Desa Bojonggede, Kecamatan Bojonggede, Jumat (12/4), menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi warga Bogor. Apalagi diketahui ada puluhan perlintasan kereta tanpa palang pintu alias bodong yang menyebabkan ratusan orang dan pengendara jadi korban. Mulai dari luka-luka hingga meninggal dunia akibat kecelakaan tragis. Bisa saja jumlah itu makin bertambah jika tak ada tindakan serius mengatasi persoalan perlintasan bodong ini. Nyatanya persoalan ini tak hanya menjadi tanggung jawab PT Kereta Api Indonesia (KAI) atau dalam hal ini PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), tapi juga perlu perhatian serius pemerintah daerah (pemda).

“Perlintasan sebidang liar, sesuai perundang-undangan wajib ditutup pemerintah daerah. Itu harus digarisbawahi. Misalnya, kejadian kemarin kan masuknya wilayah Kabupaten Bogor, maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor juga harus ambil tindakan, menutup itu,” kata Direktur Keselamatan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Edi Nursalam, kemarin. Namun, sambung dia, persoalan penutupan perlintasan bodong justru sering menimbulkan gejolak di masyarakat. Sebab, tak jarang kebijakan penutupan mendapatkan protes dan perlawanan dari warga yang bisa jadi kehilangan salah satu akses jalan. “Sesuai undang-undang bisa ditutup pemda atau kami (kemenhub). Tapi kenyataan di lapangan tak semudah yang dibayangkan. Penutupan perlintasan itu pasti mendapatkan protes dan perlawanan masyarakat, karena mereka akan kehilangan akses yang bisa jadi lebih dekat,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Direktur Prasarana Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) itu.

Tak ayal, itu seringkali menjadi pro kontra, bahkan berakhir dengan bentrokan antara warga dengan pemerintah atau aparat. Akibatnya, banyak pemerintah daerah yang enggan mengambil risiko penutupan perlintasan sebidang liar karena takut memicu penolakan dari warga. “Banyak pemda yang tidak mau mengambil risiko, akhirnya terjadi pembiaran di lokasi. Padahal, ada beberapa yang bahkan tidak ada penjaganya. Itu setiap saat bisa mengancam jiwa masyarakat pengguna jalan, ya mungkin termasuk warga protes untuk penutupan,” paparnya. Sekadar diketahui, tewasnya Mayang (18) di perlintasan Commuterline Jakarta-Bogor, tepatnya di kawasan Desa Bojonggede, Kecamatan Bojonggede, seakan membuka ‘borok’ operasional moda transportasi andalan warga Jabodetabek itu. Sepanjang jalur Jakarta-Bogor saja ada puluhan perlintasan tanpa palang pintu yang mengancam pengendara roda dua atau roda empat.

Tercatat, sepanjang 2014-2018 saja tak kurang dari 257 orang meninggal dunia, 422 orang luka berat dan 241 orang mengalami luka ringan lantaran kecelakaan di perlintasan tanpa palang pintu di jalur Daop 1 Jakarta. Di jalur Stasiun Bogor-Cilebut saja, ada 15 perlintasan tanpa palang pintu. Di mana sembilan di antaranya punya risiko kecelakaan tinggi. Perlintasan liar pun semakin mudah terlihat di jalur sepanjang Stasiun Cilebut, Bojonggede hingga Citayam. Ada 27 perlintasan yang terdata di Ditjen Perkeretaapian, di mana 22 di antaranya bodong dan hanya dikelola warga sekitar atau pihak ketiga. Tak sedikit di antaranya tidak ada penjagaan atau pengawasan sama sekali. Menanggapi hal itu, Vice President (VP) Communication PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Eva Chairunisa menegaskan pihaknya bakal menutup sejumlah perlintasan kereta tanpa palang pintu di sepanjang jalur commuterline pada tahun ini. Rencananya ada sekitar 40 perlintasan tanpa palang pintu yang akan ditutup, termasuk di beberapa titik di Kabupaten Bogor yang masuk Daop 1 Jakarta. Meski begitu, ia belum bisa memastikan kapan kebijakan itu bakal terlaksana. Sebab, pihaknya menilai perlu melakukan sosialisasi kepada warga, pemerintah setempat dan beberapa instansi terkait demi menekan jumlah kecelakaan di perlintasan kereta. “Supaya warga dan pengendara memperhatikan rambu saat melintas. Ada juga rencana membuat underpass atau jembatan layang, tapi itu perlu sosialisasi dulu,” tuturnya. (ryn/c/yok/py)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here