Petugas KPPS Berguguran Sampai Keguguran

by -8 views

METROPOLITAN – Pemilihan umum (pemilu) 2019 telah usai. Namun ada beberapa keluarga yang berduka karena kehilangan anggota keluarganya.

Sampai Jumat (19/4) sedikitnya ada 16 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang tercatat oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) meninggal dunia. Sebanyak 12 diantaranya wafat di Jawa Barat (Jabar) dan masing-masing satu orang di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan DKI Jakarta.

Sebanyak 16 korban diduga tewas akibat kelelahan karena bertugas dua hari penuh, nyaris tanpa istirahat sejak menyiapkan TPS pada Selasa (16/4) hingga penghitungan suara selesai yang rata-rata pada Kamis (18/4) dini hari. Sementara seorang lagi karena jatuh dari motor dalam perjalanan pulang ke rumah untuk rehat sejenak di tengah penghitungan suara.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jabar Rifqi Ali Mubarok mengonfirmasi wafatnya sepuluh petugas KPPS di wilayah provinsi tersebut. ”Kesepuluh petugas TPS yang meninggal dunia tersebut tersebar di lima kabupaten/ kota, yakni Garut, Purwakarta, Ciamis, Tasikmalaya dan Pangandaran. Kita mengupayakan memberikan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan karena mereka tidak terproteksi,” Rifqi. KPU RI berjanji akan memberikan santunan kepada petugas KPPS yang meninggal dunia ketika menjalankan tugas pada hari pemungutan suara pemilu 2019. ”Petugas KPPS yang sakit dan meninggal, kami akan perhatikan mereka. Mereka adalah pahlawan demokrasi,” kata Komisioner KPU Ilham Saputra.

KPU, tuturnya, saat ini masih mendata petugas KPPS di seluruh Indonesia yang mengalami musibah dan meninggal dunia saat bertugas. Menurut Ilham, sebagian besar petugas KPPS yang meninggal dunia itu karena kelelahan dan terkena serangan jantung. ”Pekerjaan penyelenggara pemilu sangat berat dan maksimal sehingga atas nama KPU, kami mengapresiasi penyelenggara pemilu level bawah,” imbuhnya.

KPU, imbuhnya, juga mengapresiasi penyelenggara pemilu level kecamatan, kabupaten/ kota hingga provinsi yang sudah memberikan dedikasi menyukseskan pemilu 2019.

Bahkan meski tidak ada asuransi, di beberapa daerah penyelenggara pemilu telah berinisiatif mengumpulkan dana santunan bagi anggota keluarga petugas KPPS yang meninggal dunia, seperti yang dilakukan KPU Kota Malang, Jatim. “Insya Allah kami dari masing-masing pribadi akan dilakukan. Kami menganggap semua penyelenggara adalah saudara. Tapi apakah ada back up asuransi dan yang lain, memang sementara ini untuk asuransi itu tidak terfasilitasi dalam anggaran pemilu 2019,” terang Ketua KPU Kota Malang, Zaenudin.

Petugas KPPS pada dasarnya adalah sukarelawan yang direkrut untuk membantu penyelenggaraan pemilu di TPS. Sebab, pemilu 2019 melibatkan pemilihan presiden, legislatif dan senator, proses pencoblosan dan penghitungan suara berlangsung lama dan rumit. Setiap pemilih harus mencoblos lima surat suara; presiden, DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota dan DPD.

Kerumitan tersebut membuat para petugas KPPS bekerja nyaris 24 jam sejak Rabu (17/4) pagi. Mereka harus menyelesaikan seluruh proses pemilu, mulai dari pencoblosan, penghitungan surat suara, rekapitulasi laporan dan berita acara.

Untuk semua tugas tersebut, upah yang mereka terima tak banyak. Ketua KPPS mendapatkan Rp550.000, sementara anggota Rp500.000. Setelah dipotong pajak 3 persen, jumlah bersihnya menjadi Rp515.000 dan Rp470.000. Tak cuma petugas KPPS saja yang meninggal, ada pula pengawas TPS yang tutup usia usai pesta demokrasi hingga mengalami keguguran, seperti yang terjadi di Kabupaten Bandung.

Koordinator Humas dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Kabupaten Bandung Hedi Ardia mengatakan, ada pengawas TPS di Kabupaten Bandung yang harus kehilangan bayi dalam kandungannya. ”Kami akan menyiapkan agenda khusus untuk menyematkan pahlawan demokrasi Kabupaten Bandung kepada mereka yang gugur dalam menjalankan tugas ini. Termasuk yang mengalami keguguran,” ucap Hedi. (de/feb/run)