Seeanaknya Keruk Tanah Merah Tanpa Izin

by -4 views

METROPOLITAN – Kabupaten Bogor bagian timur memang menyimpan banyak potensi yang bila dikelola dengan maksimal akan memberikan kontribusi besar bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bogor. Selain industri, pertanian dan pariwisata, sektor pertambangan merupakan salah satu bisnis yang sangat menjanjikan di Bogor Timur, baik di Kecamatan Gunungputri, Jonggol, Cariu hingga Tanjungsari. Hal itu terlihat dari banyaknya ‘pemain’ galian tanah yang membuka lahan galian tanah merah maupun bahan baku keramik di wilayah tersebut.

Maraknya keberadaan galian tersebut tak lepas dari banyaknya permintaan terkait kebutuhan tanah untuk menunjang pembangunan infrastruktur, khususnya infrastruktur jalan tol. Contohnya, pembangunan Jalan Tol Cimanggis-Cibitung yang membutuhkan jutaan ton tanah merah untuk pengerasan. Belum lagi, proyek pengurugan laut di kawasan Dadap Tangerang yang juga membutuhkan jutaan ton tanah merah. Semua kebutuhan tanah itu umumnya di suplai dari Bogor Timur. Jadi, bisa dibayangkan besarnya kebutuhan tersebut dan proses eksploitasi yang dilakukan penambang di Bogor Timur.

Besarnya permintaan tersebut tentunya menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan bagi penambang liar. Sebab, di situlah perputaran uang miliaran rupiah bisa dilakukan dalam hitungan hari minggu. Namun ironisnya, tak sepeserpun uang miliaran tersebut masuk ke pemerintah untuk menunjang proses pembangunan. Padahal dampak negatif, seperti kerusakan kontur lahan, jalan rusak hingga kecelakaan merupakan konsekuensi pasti di setiap lokasi yang dekat dengan galian tanah ilegal.

Salah satu pelaku galian di kawasan Bogor Timur, Jeje, mengatakan, jika kebutuhan tanah merah (urugan) saat ini sangat besar lantaran proyek jalan tol saat ini ada di mana-mana. “Jutaan ton kalau untuk kebutuhan tanah merah buat pengerasan jalan tol. Tapi sekarang sumber tanah merahnya sudah jarang. Jadi di Cariu, Tanjungsari dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan jalan tol,” ujarnya.

Di samping itu, aktivitas tambang yang juga tak kalah menggiurkannya adalah aktivitas pertambangan bahan keramik. Keperluan bahan baku untuk keramik dan genteng yang sangat tinggi dari produsen di Jabotabek, seperti KIA, Mulia Keramik dan MClass, membuat aktivitas pertambangan bahan keramik sangat marak di Bogor Timur, khususnya di Jonggol dan Tanjungsari.

Bisnis bahan baku keramik ini menjanjikan omset sangat besar bagi penambang lantaran bahan baku tersebut diperlukan untuk kelancaran produksi. Bila dikalkulasikan dalam satu minggu perputaran uang dari kegiatan tersebut bisa mencapai ratusan juta rupiah. Namun sama dengan aktivitas galian tanah merah, keberadaan galian bahan keramik ini tidak memberikan kontribusi bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor. Sebab, pengusaha galian bahan keramik tersebut umumnya tak berizin dan tidak berkewajiban membayar retribusi kepada pemerintah. (fik/els/py)