Aku Mencintai Guruku

by -24 views

Ini ceritaku waktu SMP. Aku sekolah di SMP swasta yang terkenal di daerahku. Di situ ada guru olahraga sebut aja Pak Arda. Umur­nya 2 kali dari aku. Kisah cintaku berawal dari aku terkena masalah di se­kolah karena aku anak yang nggak punya teman.

Setiap hari aku sedih karena nggak ada temen. Suatu hari nggak sengaja aku cari no HP Pak Arda ter­nyata aku dapat. Saat itu juga aku SMS dia. Awalnya biasa aja lama kelamaan aku merasa nyaman.

Waktu itu aku duduk di kelas 2 SMP. Aku mulai jatuh cinta sete­lah aku lulus SMP. Sengaja aku masuk SMA yang satu yayasan karena setiap hari Senin dan Kamis, Pak Arda mengajar ekstra di sekolahku. Suatu hari aku niat untuk mengutarakan perasaanku. Awalnya Pak Arda syok karena dia nggak nyangka. Hubunganku sudah seperti ayah dan anak tetapi aku berani menyatakan cinta walau aku tahu dia sudah punya anak dan istri.

Setiap hari kami bertemu dan SMS maupun telepon walau dia belum juga membalas perasaanku. Ya udah aku berani kan untuk menantang dia dengan mengajaknya berhubungan suami istri. Itu aku lakukan saking cinta kepadanya. Lagi pula dia jarang bercinta dengan istrinya karena tinggal di beda kota.

Saat itu dia tidak langsung menjawab mungkin dia takut aku cerita dengan teman-teman. Setelah aku berusaha men­jelaskan akhirnya dia SMS aku dan bilang ingin menga­jak jalan. Waktu pulang sekolah aku bertemu dengan dia di tempat janjian. Saat itu hujan jadi aku dibon­cengnya menggunakan mantel. Tak terasa sampai ke tempat yang dia tuju. Ternyata aku diajak ke hotel.

Awalnya aku tidak percaya karena waktu itu dia tidak bilang mau pergi kemana. Akhirnya aku pun masuk kamar yang dia pesan. Dia bilang nanti ngo­brol di sini sambil menunjuk tempat tidur. Sambil aku tiduran karena capek dia pergi ke kamar man­di. Setelah itu tiba-tiba dari belakang dia tidur di sebelahku. Kami pun berhubungan layaknya su­ami istri. Aku tidak menyangka Pak Arda yang selama ini aku idamkan ternyata dia juga mencintaiku .

Hubungan kami pun berlanjut sampai tiga tahun. Setiap ada waktu libur kami selalu ber­temu. Bahagia rasanya bisa berpacaran dengan guruku sendiri. Terima kasih sekian cerita dari saya. (cer/els)