METROPOLITAN – Persoalan trans­portasi di jalur perbatasan Parung­panjang-Rumpin-Gunungsindur hingga kini belum menemui titik terang. Kebijakan uji coba jam tayang truk tambang yang diterapkan sejak Ja­nuari dengan berbagai skema yang sudah dicoba belum juga membua­hkan solusi.

Kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor bakal menerapkan aturan sistem buka tutup pada jalur tersebut hingga jelang Idul Fitri. Hal itu disepakai se­telah Pemkab Bogor bertemu Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dan Pemkab Tangerang, Kamis (16/5). Setelah uji coba sebelumnya truk tambang baru boleh melintas pukul 20:00-04:00 WIB, nanti truk bo­leh melintas pada siang hari. Asalkan, kantong-kantong parkir sudah terse­dia di lima titik di dua daerah tersebut.

”Untuk kelancaran lalu lintas jelang Lebaran, ada keinginan jalur per­tambangan itu buka tutup. Rencana­nya jam 5 sampai jam 9 pagi itu ditutup. Kita buka lagi jam 9 malam sampai jam 4 pagi. Lalu jam 4 ke atas kita tutup lagi,” kata Bupati Bogor, Ade Yasin. ”Rencananya kantong parkir selesai dulu baru ini bisa jalan. Itu berlaku di Bogor dan Tangerang,” sambung AY, sapaan akrabnya.

Kantong parkir sendiri, sambung AY, akan dibangun di dua wilayah, yakni Kabupaten Bogor dan Tangerang. Rencana ini berdasarkan kebutuhan mendesak di jalur tambang dan dip­eruntukkan bagi truk pengangkut hasil tambang sebagai tempat pem­berhentian. Kebijakan ini sedikit ter­hambat lantaran persoalan lahan yang dibutuhkan merupakan milik Perhu­tani. BPTJ pun dituntut melobi agar bisa disetujui.

”Untuk di Bogor ada tiga titik kantong parkir. Luasnya beda-beda, ada yang 5 hektare, lalu dua titik lainnya masing-masing 1 hektare. Di Tangerang juga ada. Kalau untuk parkirnya tinggal menyesuaikan waktu tayangnya,” papar politisi PPP itu. Ia memperkirakan, untuk kantong parkir seluas 5 hek­tare bisa menampung sekitar 1.000-an truk pengangkut hasil tambang. Nantinya kantong parkir tersebut akan dikerja­samakan dengan masyarakat dan perhutani. ”Masa uji coba buka tutup jalur sekitar dua mingguan. Kantong parkir juga dalam persiapan. Keliha­tannya Perhutani sudah siap,” paparnya.

Wacana pembuatan kantong parkir di dua wilayah itu pun menguat. Untuk mengimbangi dan menyesuaikan aturan jam tayang, truk tambang masih terus diujicobakan. Nantinya akan ada dua kantong parkir di Kabupaten Bogor dan Tang­erang. Namun kebijakan itu masih terkendala lahan yang akan digunakan.

”Secara teknis, dengan ban­tuan transporter akan dise­diakan lima kantong parkir. Di mana tiga titik berada di Kabupaten Tangerang dan dua titik lainnya di Kabupaten Bogor. Solusi tersebut diang­gap pas untuk menunjang pemberlakuan jam tayang truk tambang di jalur tersebut,” terang Kepala BPTJ Bambang Prihartono.

Tak hanya itu, lanjut Bambang, setiap kantong parkir diharap­kan ada petugas yang akan mengatur di lokasi. Sehingga truk nanti tidak ada lagi yang parkir di pinggir jalan. Teknis­nya, saat pelanggaran jam per­jalanan, truk parkir di tempat yang sudah disediakan. ”Setiap kantong parkir sudah ada pe­tugas yang mengaturnya,” te­gasnya.

Untuk lahan parkir, menurut dia, tengah diupayakan memin­jam lahan milik Perum Perhu­tani di sekitar jalur perbatasan. ”Kami upayakan. Pemkab Bo­gor sedang berusaha meminjam lahan Perhutani,” ujarnya.

Pemberlakuan jam tayang untuk truk tambang tetap di­terapkan sembari menunggu kesepakatan antara BPTJ dengan Pemkab Bogor dan Pemkab Tangerang. “Akan segera dite­tapkan bersama-sama antara Pemkab Bogor dan Kabupaten Tangerang, termasuk Kota Tang­erang dan Tangerang Selatan,” tuntas pria berkacamata itu. (ryn/c/yok/py)

BACA JUGA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here